NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Menyaksikan festival budaya menjadi satu cara terbaik untuk mengenal dan mengetahui tradisi dari suatu daerah, sekaligus menjadi upaya melestarikan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Salah satu festival budaya yang menarik disaksikan secara langsung adalah Festival Budaya Babukung yang rutin digelar setiap tahun di Kabupaten Lamandau. Event yang diadopsi dari tradisi kematian masyarakat Dayak Tomun ini bertujuan untuk menghibur keluarga yang sedang berduka. 

Saat acara berlangsung, para penari akan melakukan tari-tarian menggunakan topeng dari bahan kayu yang telah diukir menyerupai berbagai macam jenis hewan maupun karakter. Topeng yang diukir ini disebut juga dengan ‘Sababuka’ atau ‘Luha’, sedangkan para penarinya disebut dengan ‘Bukung, sehingga ritual ini kemudian dikenal dengan nama ‘Babukung’.

Menurut kepercayaan masyarakat lokal, Babukung adalah upacara yang menyatukan roh para leluhur dalam tarian dan doa. Tak sekadar tarian, Babukung menjadi tradisi yang menghubungkan manusia dan alam. Tahun ini, Festival Babukung digelar pada 8 hingga 10 Agustus 2024, dengan mengangkat tema ‘Menjaga Tradisi, Merawat Bumi, Mengarungi Era Digitalisasi’.

Festival Babukung ini merupakan event yang kesembilan kalinya dilaksanakan sejak tahun 2014 lalu, dimana festival Babukung tersebut juga telah masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2024, oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenkraf-RI). Tidak hanya karnaval Luha, di festival ini juga digelar pentas musik etnik, serta pemecahan rekor MURI 1.000 Tatakup.

--page

Sebelum para penari luha beraksi, sejumlah pemangku adat terlebih dahulu menggelar ritual Padah Pamit dan Meumpan Bukung, sebuah tradisi yang sakral bagi masyarakat adat Dayak Tomun. Kegiatan ini bertujuan untuk meminta izin kepada leluhur agar pelaksanaan festival tersebut berjalan lancar dan aman. Sementara, ritual adat Maumpan Bukung atau ritual adat pembuka Festival Budaya Babukung, dilaksanakan sebelum Penari Bukung muncul,

Bagi masyarakat suku Dayak Tomun, ritual Babukung ini juga memiliki makna yang cukup mendalam, yaitu menggambarkan semangat kebersamaan, kesetiakawanan dan semangat gotong royong. Pada Festival Budaya Babukung tahun 2024 ini, Pemkab Lamandau sengaja mengadakannya di Bulan Agustus, lantaran bersamaan dengan momen perayaan Hari Jadi Kabupaten Lamandau yang ke-22 dan HUT RI ke 76.

Pro dan kontra hingga digelar secara daring

Bagi masyarakat adat Dayak Tomun, khususnya dengan kepercayaan Kaharingan, atraksi Tari Babukung bukan merupakan pementasan tari sembarangan. Tari Babukung hanya dapat dijumpai ataupun digelar khusus saat ada orang yang meninggal dunia. Serta merupakan salah satu ritual penghantar kematian yang sudah keramat, mistik, syarat makna baik verbal maupun non verbal.

Karena berbagai alasan itu, awal kemunculan pertunjukan Babukung hingga menjadi sebuah festival sempat menuai pro dan kontra di kalangan pemangku adat setempat. Namun, melalui pendekatan yang dilakukan, lambat laun atraksi Babukung pada sebuah festival dapat diterima dan kini menjelma menjadi salah satu produk budaya yang bernilai tinggi dan setiap tahun bisa dinikmati berbagai kalangan melalui gelaran Festival Budaya Babukung.

Saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada masa pandemi Covid-19, Festival Budaya Babukung tetap digelar. Pada saat itu, Bupati Lamandau Hendra Lesmana memutuskan jika event tahunan tersebut akan digelar secara virtual atau dalam jaringan (Daring) dengan mengangkat tema ‘The Power Off Culture’ Kekuatan Adat Budaya. Gagasan untuk tetap menggelar Festival Budaya secara daring itu bertujuan agar mampu menjadi daya dorong pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi.

Merawat tradisi dan keberagaman

Pada rangkaian kegiatan Festival Budaya Babukung tahun ini diikuti delapan kecamatan serta beberapa desa yang ada di Kabupaten Lamandau, dengan total peserta mencapai 1.669 orang lebih dari berbagai kalangan. Bahkan sejumlah komunitas etnis di Kabupaten Lamandau juga turut ambil bagian pada event tersebut.

“Event ini juga sebagai simbol keberagaman dan kebhinekaan masyarakat di Kabupaten Lamandau,” ungkap Penjabat Bupati Lamandau, Lilis Suriani.

--page

Sebagai salah satu upaya merawat tradisi dan budaya, Pemkab Lamandau juga menggelar lomba mewarnai Luha Bukung yang diikuti puluhan anak TK yang ada di Kabupaten Lamandau. Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan kecintaan terhadap tradisi leluhur dan seni budaya daerah sejak dini.

Tak hanya itu, Festival Budaya Babukung juga telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya para pelaku UMKM dan peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha perhotelan serta penginapan di Kabupaten Lamandau.

Pada pelaksanaan Festival Babukung tahun ini, telah dirangkai dengan pemecahan rekor Muri untuk jumlah alat musik Tatakup terbanyak dan beberapa kegiatan lainnya seperti ritual adat, pentas musik etnik, pagelaran tari kreasi bukung, pameran foto bukung, dan Expo yang dilaksanakan mulai 8-10 Agustus 2024 di Kawasan Bundaran Rusa dan Alun-Alun Kota Nanga Bulik. (HENDI/J)