BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bogor**, Pemerintah Kabupaten Bogor, yang terletak di Jawa Barat, telah menjalin kerja sama dengan Catholic Relief Services (CRS) Indonesia untuk melakukan kajian terkait risiko bencana di wilayahnya. Kesepakatan ini diambil mengingat tingginya frekuensi bencana hidrometeorologi basah yang terjadi di daerah tersebut. Dalam pernyataannya di Cibinong, Pelaksana Harian Penjabat Bupati Bogor, Suryanto Putra, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari perjanjian kerja sama (PKS) yang bertujuan untuk menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah yang tangguh terhadap bencana. Suryanto mengungkapkan apresiasinya terhadap CRS yang telah berkontribusi dalam mendukung pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi bencana. Ia berharap bahwa melalui kerjasama ini, risiko bencana dapat diminimalisir. Yenni Suryani, selaku Country Manager CRS Indonesia, menjelaskan bahwa PKS yang saat ini dibuat merupakan perpanjangan dari kerja sama yang telah terjalin sejak tahun lalu. Tahun ini, kolaborasi tersebut akan difokuskan pada penanganan bencana dengan melakukan kajian risiko melalui program bernama Bogor Komunitas Perkotaan Untuk Aksi Tangguh (KUAT). Dalam konteks penanggulangan bencana, Yenni turut menekankan pentingnya dorongan terhadap upaya mengurangi kemiskinan, mengatasi masalah sosial, serta meningkatkan ketahanan pangan. Hal ini sejalan dengan komitmen CRS untuk tidak hanya fokus pada disaster risk reduction tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah menetapkan Kabupaten Bogor sebagai wilayah dengan frekuensi bencana hidrometeorologi basah tertinggi di seluruh Indonesia. Bencana-bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor menjadi ancaman utama di kawasan Jabodetabek, dengan Kabupaten Bogor menjadi lokasi yang paling terdampak. Dalam catatan historis, Kabupaten Bogor mengalami 181 kejadian banjir antara tahun 2021 hingga 2022. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Jakarta Timur yang mencatat 75 kejadian dan Jakarta Selatan dengan 57 kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi kejadian banjir di Kabupaten Bogor adalah luar biasa, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kabupaten atau kota lainnya. Selain itu, daerah Jabodetabek mencatatkan angka korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi basah tertinggi pada tahun 2020, dengan total 65 jiwa. Dengan demikian, upaya mitigasi risiko bencana menjadi sangat penting dan mendesak untuk dilakukan di Kabupaten Bogor. ANTARA