JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa Indonesia akan berfokus pada pemanfaatan komoditas kelapa sawit, khususnya *crude palm oil* (CPO) dan produk turunannya, untuk keperluan dalam negeri. Langkah ini diambil sehubungan dengan kebijakan Uni Eropa yang memberlakukan regulasi mengenai deforestasi, yang bisa berdampak pada pembatasan ekspor komoditas asal Indonesia. Kebijakan *European Union Deforestation Regulation* (EUDR) ini berpotensi mengurangi peluang ekspor Indonesia, terutama terkait tuduhan deforestasi. Zulkifli optimis, dengan menyatakan bahwa pemerintah akan meningkatkan produksi biodiesel, mulai dari B20 yang akan ditingkatkan ke B35, dan seterusnya. "Jika Uni Eropa tidak lagi membeli produk kita, kami akan tetap berterima kasih," ungkapnya di Jakarta. Lebih lanjut, Zulkifli menambahkan bahwa Indonesia memerlukan stok kelapa sawit yang signifikan untuk produksi biodiesel dan sumber energi alternatif lainnya, termasuk *bioavtur*. Dia menyebutkan rencana investasi untuk transportasi udara, di mana kebutuhan akan CPO akan meningkat. Di sisi lain, Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan Internasional, Bara Krishna Hasibuan, menjelaskan bahwa ke depan, prioritas pemanfaatan kelapa sawit akan diarahkan kepada pasar domestik, terutama untuk pengembangan biodiesel. "Kami tetap akan melakukan ekspor, tetapi fokus utama adalah untuk kebutuhan dalam negeri," katanya. Dia juga menekankan bahwa permintaan global terhadap kelapa sawit masih tinggi, mengingat Indonesia merupakan produsen terbesar dunia dalam kategori CPO. "Ekspor tidak akan dihentikan, tetapi kemungkinan akan ada pengurangan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal," tambah Bara. Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, juga menekankan perlunya meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit dalam mendukung program biodiesel B50. Penerapan teknologi yang tepat dalam pemilihan benih unggul serta teknik perawatan dan sensor menjadi fokus utama untuk mencapai target tersebut. Dalam kunjungannya di Pasar Minggu, Jakarta, Sudaryono menjelaskan bahwa potensi biodiesel B50 di Indonesia sangat besar. Mengingat Indonesia menyuplai 60 persen CPO di pasar global, ia menyadari tantangan berupa penolakan dari beberapa negara Eropa. Di samping itu, kebutuhan untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan menjadi semakin mendesak. Pemerintah telah mengambil langkah nyata dengan menerapkan B35, di mana 35 persen dari *biosolar* yang digunakan berasal dari CPO. Target selanjutnya adalah meningkatkan kandungan biodiesel menjadi B50 untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih ramah lingkungan. ANTARA