JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Waspadai tipu muslihat yang melibatkan “dokter AI” di platform media sosial. Kejadian ini dialami oleh Ratnawi, seorang pria berusia 65 tahun yang dengan cepat menghampiri putrinya, Evi, ketika ia baru saja pulang ke rumah. Dengan penuh harapan, Ratnawi menunjukkan kepada Evi tentang obat diabetes terbaru yang ditemukannya melalui ponsel. Ratnawi telah berjuang melawan diabetes tipe dua selama lima tahun terakhir, kondisi yang membuatnya merasa lemah dan membatasi pergerakannya. Oleh karena itu, ia sangat berharap agar penyakit tersebut dapat segera diatasi. Dalam ponselnya, terpampang video yang memperlihatkan Najwa Shihab, seorang jurnalis terkenal di Indonesia, tengah mewawancarai mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Dalam video tersebut, Najwa mengklaim bahwa dokter asal Indonesia dapat mengobati diabetes dengan efektivitas mencapai 98 persen dan telah menyembuhkan 70.000 pasien hanya dengan kapsul. Terawan, dalam wawancara itu, menyatakan bahwa obat yang ditawarkannya tersebut dua kali lebih efektif dibandingkan produk serupa. Ia juga menambahkan bahwa dalam waktu empat minggu tidak ada gejala diabetes yang tersisa, dengan konsultasi yang dapat dilakukan secara *online*. Video ini diunggah oleh akun Facebook bernama Medikal Opinion dan diberi tambahan teks yang menyeramkan, menyatakan bahwa semua penderita diabetes mengalami pembusukan dari dalam dan ditakutkan akan meninggal dalam penderitaan. Akun tersebut juga menyediakan tautan untuk pembelian produk kapsul yang dijanjikan. Kehadiran nama besar seperti Najwa Shihab dan Terawan dalam konteks promosi obat ini sepertinya tidak dapat dibenarkan. Apalagi, jika diperhatikan lebih lanjut, gerakan bibir dalam video tidak sejalan dengan suara yang terdengar. Hal ini menimbulkan keraguan atas keaslian video tersebut. Di era ini, teknologi *artificial intelligence* (AI) telah berkembang pesat dan memungkinkan pembuatan konten yang sangat realistis, seperti *deepfake*, yaitu teknologi yang dapat menyajikan foto, audio, atau video yang menyesatkan dan tampak meyakinkan. Di samping itu, kita masih ingat contoh di mana Presiden Joko Widodo terlihat berbicara dengan fasih dalam bahasa Mandarin, sebuah kemungkinan yang juga didorong oleh kemajuan teknologi kecerdasan buatan. Melalui teknologi Google Reverse Image, dapat diketahui bahwa video yang ditunjukkan merupakan potongan dari Program Mata Najwa yang telah diunggah empat tahun lalu berjudul "Menangkal Corona - Menkes Terawan: Virus Corona Ringan, Hoaksnya Berat." Perlu dicatat bahwa tidak hanya Najwa Shihab dan Terawan yang menjadi sasaran penyalahgunaan dalam promosi produk kesehatan. Video mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari juga pernah disalahgunakan untuk tujuan serupa dengan memanfaatkan teknologi *deepfake*. Masyarakat, terutama para penderita penyakit, mungkin dengan mudah terjebak dalam janji-janji manis para “dokter AI” yang menawarkan solusi instan. Terlebih, bagi mereka yang telah lama mengalami penyakit yang sulit disembuhkan, kehadiran penawaran semacam ini bisa sangat menggoda. Disinformasi dan misinformasi merupakan risiko besar yang dapat dihadapi masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Wardle dan Derakhstan (2017), serta Ehrenfeld dan Barton (2019), membagi bentuk-bentuk gangguan informasi menjadi tiga kategori: misinformasi, disinformasi, dan malainformasi. Misinformasi merujuk pada informasi palsu yang disebarkan tanpa niat merugikan. Di sisi lain, disinformasi adalah berita bohong yang disebarkan dengan niat mengakibatkan kerugian, sedangkan malainformasi adalah informasi yang sengaja dipindahkan ke ruang publik untuk menciptakan kerugian. Media sosial sebagai platform penyebaran informasi dan konten sering kali tidak menerapkan disiplin verifikasi yang ketat, berbeda dengan media jurnalistik yang lebih diutamakan untuk melakukan investigasi dan verifikasi informasi. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) melaporkan bahwa hingga tahun 2023, terdapat 150 hoaks di bidang kesehatan. Meskipun jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan hoaks politik, dampak dari informasi palsu terkait kesehatan bisa sangat besar bagi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial masyarakat. Sebagai contoh, seseorang yang meragukan manfaat vaksin tidak hanya membahayakan diri mereka sendiri, tetapi juga bisa mengancam kesehatan banyak orang di sekitarnya. Data dari "We Are Social" pada 2024 menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia, dengan sekitar 139 juta orang atau 49,9 persen dari total populasi merupakan pengguna aktif. Namun, rendahnya tingkat literasi informasi menjadi tantangan besar. Menurut data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, Indonesia berada pada peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359 dalam literasi. Selain itu, sekitar 0,001 persen dari penduduk Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis masyarakat masih perlu ditingkatkan. Kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam menganalisis dan menilai keakuratan informasi yang diterima. Tanpa kemampuan ini, seseorang rentan untuk mempercayai informasi palsu yang beredar di media sosial. Laporan Global Risks Report 2024 dari World Economic Forum memprediksi bahwa gangguan informasi akan menjadi ancaman serius di masa depan, terutama seiring dengan meningkatnya penyalahgunaan kemampuan AI. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diambil untuk memverifikasi informasi. Misalnya, melakukan pencarian dengan kata kunci dan memastikan bahwa informasi tersebut berasal dari sumber yang kredibel, seperti media massa terverifikasi atau situs resmi lembaga terkait. Untuk mendeteksi konten *deepfake*, pengguna juga dapat memperhatikan beberapa ciri khas, seperti gerakan wajah yang tidak wajar, inkonsistensi gerakan bibir, atau transisi yang tidak biasa dalam video. Sebagai konsumen informasi, kita sebaiknya tidak langsung mempercayai apa yang kita lihat di media sosial. Kemampuan berpikir kritis adalah keterampilan penting yang perlu diasah, termasuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar terhadap semua informasi yang diterima. Jika mengalami masalah kesehatan, konsultasilah dengan tenaga medis profesional di pusat-pusat kesehatan terpercaya dan cerna informasi dengan bijak. Selalu waspadai kehadiran "dokter AI" di media sosial yang bertujuan untuk meraih keuntungan. ANTARA