**Borneonews - Tanjung, Koto Kampar Hulu**, Peserta Program Residensi Peningkatan Budaya 2024 berkumpul untuk menyaksikan penampilan seni musik tradisional Gondang Oguang yang dibawakan oleh empat wanita di Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kampar, Riau, pada Rabu, 7 Agustus 2024.
Acara ini merupakan bagian dari program residensi yang sudah memasuki hari keenam, di mana para peserta, baik dari dalam maupun luar negeri, mendengarkan dengan seksama alunan Gondang Oguang. Alunan ini terdiri dari beberapa alat musik, termasuk *calempong* (alat musik perkusi logam), *gondang* (genderang), dan gong.
Salman Azis, seorang pelestari tradisi lisan berusia 58 tahun dari Kampar, menjelaskan bahwa tidak ada nyanyian yang mengiringi penampilan Gondang Oguang, karena suara wanita dianggap sebagai *aurat* (bagian tubuh yang seharusnya ditutupi). Meskipun demikian, para pemain Gondang Oguang tetap menyanyikan lagu dalam benak mereka.
"Suara pemain *calempong* mungkin terdengar parau setelah bermain, karena hati mereka selalu bernyanyi meskipun suara tidak didengar," ungkap Azis, yang dianugerahi penghargaan Tokoh Sastra Lisan 2023 dari Balai Bahasa Provinsi Riau.
Gondang Oguang memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Kampar. Seni musik tradisional ini biasanya dimainkan pada acara-acara penting, termasuk dalam ritual pelantikan *Ninik Mamak* (pemimpin adat) dan saat perayaan hari raya keagamaan. Jika pelantikan *Ninik Mamak* tidak disertai dengan alunan Gondang Oguang, maka pelantikan dianggap tidak sah atau gagal.
Sebelum memainkan Gondang Oguang, para pemain harus meminta izin dari pemimpin adat setempat. Setelah mendapatkan persetujuan, alat musik tersebut baru boleh diambil dari tempat penyimpanan.
Pada tahun 2024, para peserta program residensi melaksanakan penelitian dan inkubasi dari tanggal 2 hingga 27 Agustus. Salman Azis juga menjadi salah satu pelatih dalam residensi ini, yang mengangkat tema "Musikalisasi Pantun dan Tradisi Lisan." Selain Salman, Taslim bin Faham dari Rokan Hulu juga diangkat sebagai pelatih. Faham terkenal sebagai maestro tradisi lisan Riau, yang dikenal dengan sebutan *pengkoba* atau *tukang koba*.
*Pengkoba* adalah tradisi lisan yang menggunakan cara menyanyi untuk menceritakan cerita. Cerita-cerita dalam *koba* mencakup berbagai tema mengenai kehidupan, alam, manusia, hewan, roh, makhluk gaib, serta cerita lucu yang kadang disisipkan.
Setiap *koba* memiliki ritme tersendiri. Misalnya, di Rokan Hulu dan Rokan Hilir, dikenal dengan gaya *rantau kopar* yang memiliki nada merdu dan menggoda. Istilah *bokoba* sendiri berarti menceritakan cerita dengan iringan alat musik drum bebano.
Dua maestro tradisi lisan Riau ini berkolaborasi dengan grup musik kontemporer bernama Riau Rhythm. Dalam program ini, Riau Rhythm mengubah *pantun*, yang merupakan puisi berisi kuatrain, menjadi musik.
Para peserta residensi mengikuti enam hari pelatihan bersama Riau Rhythm. Setelah itu, mereka melanjutkan ke periode inkubasi untuk menciptakan karya-karya baru. Targetnya adalah para peserta mampu menciptakan komposisi musik baru berdasarkan penelitian yang mereka lakukan selama residensi.
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, dan dari masing-masing kelompok dihasilkan tiga karya yang dijadwalkan untuk ditampilkan dalam showcase di Pekanbaru pada 27 Agustus dan showcase di Jakarta pada 30 Agustus. "Kami berharap dari residensi ini, mereka bisa menciptakan musik dengan metodologi baru, serta gaya proses penciptaan yang baru," kata Rino Dezapaty, seorang komposer sekaligus anggota Riau Rhythm.
Dezapaty menekankan bahwa penting bagi para komposer untuk menggabungkan imajinasi dan penelitian saat menciptakan musik. Riau Rhythm menggabungkan elemen musik Melayu dengan alat musik Barat. Mereka mengumpulkan informasi sejarah, baik yang bersifat lisan maupun tertulis, lalu menuangkan gagasan dan pemikiran dalam karya musik.
Riau Rhythm tidak hanya berkarya di dalam negeri, namun juga tampil di luar negeri. Salah satu peserta residensi, Aryo Seno Hool, 27 tahun, mengungkapkan antusiasme yang tinggi dalam mempelajari keragaman seni tradisional Indonesia. Hool, seorang musisi asal Yogyakarta-Australia, merasa memiliki kedekatan dengan budaya Indonesia dan telah mempelajari musik tradisional *karawitan* dari Jawa, Sunda, dan Bali saat program di Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Ia berharap dapat belajar lebih banyak tentang musik Indonesia, terutama yang berasal dari Riau. "Musik Riau sangat berbeda dengan musik Jawa. Saya sudah mempelajari *karawitan* dan lainnya, tetapi *calempong* itu menarik. Ada kehidupan di balik musiknya, dan ia layak untuk diperkenalkan secara luas," ungkapnya.
Selama residensi, Hool dan para pelaku budaya internasional lainnya berkolaborasi dengan 30 pelaku budaya domestik yang telah dipilih sebelumnya. Selain di Pekanbaru, beberapa peserta juga mengikuti program residensi di tempat-tempat lain, seperti di Cirebon, Jawa Barat, untuk mempelajari tarian topeng Losari, dan di Yogyakarta untuk mempelajari olahraga tradisional *jemparingan*.
Program Residensi Peningkatan Budaya 2024 diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Personel dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan. Program ini bertujuan untuk mengembangkan para pelaku budaya dan komunitas budaya, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, serta para ahli di bidangnya.
Para pelaku budaya internasional yang berpartisipasi dalam program ini berasal dari berbagai negara, antara lain Australia, Meksiko, Italia, India, Kanada, Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Belanda, Malaysia, Kolombia, Ekuador, Thailand, Yunani, Mesir, Filipina, Yordania, dan Polandia.
Selain sebagai bentuk kebijakan diplomasi budaya Indonesia, kolaborasi ini juga merupakan upaya untuk memperluas dan memperkuat jaringan pelaku budaya Indonesia di kancah internasional. "Program Residensi Peningkatan Budaya adalah kesempatan untuk melestarikan budaya Indonesia sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda sebagai bagian dari pengembangan pelaku budaya," kata Direktur Personel dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan, Restu Gunawan.
ANTARA
Gondang Oguang, Pengantar Budaya Kampar di Kancah Internasional
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Petani Rakumpit Gagal Panen Akibat Diserang Karhutla
Kadistanketpang Palangka Raya Tinjau Penyiapan Lahan Penangkaran Rusa di Kanarakan
Pemprov Kalteng Siapkan Bantuan Pangan untuk Hampir 5.000 Penerima Terdampak Karhutla
Pemerintah Aktifkan Rumah Oksigen untuk Warga Terdampak Karhutla
Polres Gumas Gandeng Disnakerkop UKM Bantu Pencari Kerja
Dishub Kotim Usulkan Rp1,2 Miliar untuk Rehab Dermaga Selamat Datang Sampit di Seranau
Komentar (0)
Memuat komentar…







