JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pakar politik dari Universitas Andalas, Prof. Asrinaldi, menyampaikan pandangannya bahwa tidak menjadi kader partai politik akan berdampak negatif pada karier politik Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta. Menurutnya, dalam konteks politik yang ada saat ini, kepemimpinan di masa depan akan lebih mengutamakan para kader dari sebuah partai daripada individu yang bukan berasal dari kader tersebut. Prof. Asrinaldi menjelaskan bahwa saat ini, partai politik tak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi juga sebagai entitas yang memiliki tuntutan untuk mencalonkan pemimpin-pemimpin yang merupakan kader internal. Ia menekankan bahwa Anies akan menghadapi kesulitan dalam bersaing pada tingkat nasional, terutama menjelang Pemilu 2029 jika ia tetap memilih untuk tidak berafiliasi dengan partai politik. Ekspert tersebut menegaskan, "Akan sangat menantang bagi Anies untuk terlibat dalam agenda politik penting jika ia tetap tidak menjadi bagian dari sebuah partai." Tuntutan dari pihak partai politik di Indonesia menunjukkan bahwa pencalonan pemimpin yang mumpuni akan lebih terbuka untuk mereka yang bernaung di bawah partai. Meskipun begitu, ada sisi positif dari keputusan Anies untuk tidak menjadi kader partai, yaitu fleksibilitas yang dimiliki untuk bergabung dengan partai mana pun. Hal ini terlihat pada Pemilu 2024, di mana Anies didukung oleh beberapa partai, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai NasDem, meskipun ia tidak menjadi anggota dari partai-partai tersebut. Sebelum berita ini, terdengar kabar bahwa Anies akan mendapatkan dukungan dari PDI Perjuangan dalam pemilihan gubernur Jakarta yang akan datang. Namun, PDI Perjuangan memutuskan untuk mengusung kader internal, seperti Pramono Anung dan Rano Karno, untuk maju dalam pilkada tersebut. Pramono Anung, yang menjabat sebagai Sekretaris Kabinet, bersama Rano Karno, yang merupakan Anggota DPR RI, telah menuju Kantor KPU DKI Jakarta pada Rabu, 28 Agustus, pada pukul 11.00 WIB untuk mendaftarkan pencalonan mereka. Dengan pendaftaran ini, pasangan Pramono-Rano menjadi tim pertama yang mendaftarkan diri dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di KPU DKI Jakarta, sementara pasangan lain seperti Ridwan Kamil dan Suswono juga melakukan hal serupa pada hari yang sama. ANTARA