**Borneonews - Jakarta**, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) bersama dengan perusahaan penyedia layanan teknologi digital, PT Trans Digital Cemerlang (PT TDC), berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman pedagang pasar tentang transaksi digital. Salah satu fokus utama dari upaya ini adalah maksimalisasi penggunaan *QRIS* sebagai metode pembayaran di sektor pangan.
Dikatakan oleh Kabid Infokom IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, bahwa Indonesia memiliki sekitar 12,5 juta pedagang pasar yang perlu mendapat pelatihan dan pemahaman mengenai aspek digital. Menurutnya, sudah ada kemajuan dalam penggunaan *QRIS* di sektor non-pangan, namun di sektor pangan, penggunaan tersebut masih memiliki tantangan yang perlu diatasi.
Reynald menekankan bahwa *QRIS* telah terbukti menjadi metode yang efisien dan efektif dalam transaksi pembayaran di pasar tradisional, terutama di daerah seperti Pasar Tanah Abang, yang sebagian besar bergerak di sektor non-pangan. Meskipun demikian, penggunaan sistem ini belum sepenuhnya optimal di kalangan pedagang pangan, seperti penjual ikan, sayur, dan daging.
Setelah masa pandemi, penggunaan aplikasi seperti WhatsApp untuk mempromosikan produk sudah menjadi kebiasaan bagi para pedagang. Mereka mulai aktif melakukan pembaruan status terkait produk yang dijual. Meskipun demikian, Reynaldi percaya bahwa peningkatan literasi digital bagi pedagang masih perlu ditingkatkan agar dapat bersaing di era digital.
Reynald menegaskan bahwa upaya ini tidak dapat dilakukan secara mandiri. Peran serta pemerintah dalam membina dan mendukung para pedagang pasar juga sangat diperlukan. Ia menambahkan bahwa banyak anggota IKAPPI, termasuk pedagang di Pasar Tanah Abang dan Pleret, Purwakarta, sudah mulai menggunakan *QRIS* dalam transaksi mereka, meskipun masih ada kendala seperti keterbatasan waktu dalam penarikan saldo.
Praktisi dan Direktur Utama PT Trans Digital Cemerlang, Indra, mencatat bahwa pihaknya sangat mendukung upaya peningkatan literasi digital, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berkecimpung di sektor non-pangan. Ia percaya bahwa digitalisasi transaksi keuangan merupakan suatu keharusan yang harus diadopsi oleh para pedagang, termasuk mereka yang bergerak di sektor pangan.
Indra mengungkapkan bahwa perusahaannya terus berinovasi, salah satunya dengan produk Posku Lite, yang memungkinkan pembayaran lewat *QRIS* bagi pengusaha kecil. Bentuk dukungan lain yang diberikan termasuk pendampingan dalam literasi keuangan, penyelenggaraan seminar, dan pelatihan digital marketing, serta insentif yang tersedia selama menjalin kemitraan.
Meskipun minat terhadap aplikasi kasir digital masih rendah, Indra menjelaskan bahwa aplikasi tersebut memiliki banyak manfaat. Dengan pemanfaatan aplikasi ini, para pelaku usaha dapat lebih mudah dalam mencatat transaksi, serta mengelola arus masuk dan keluar barang serta uang, sehingga usaha menjadi lebih aman dan terpercaya.
Lebih lanjut, Indra menekankan perlunya pendidikan dan konsultasi keuangan yang memadai bagi UMKM, khususnya dalam membuat laporan keuangan yang berkualitas. Ia juga berharap bahwa perusahaan yang menawarkan pendampingan keuangan digital harus memenuhi standar internasional seperti ISO 9001:2015, ISO 37001:2016, dan ISO 27001:2022.
Sebagai penutup, Indra menegaskan bahwa penerapan standar ISO dalam layanan tersebut juga berfungsi sebagai mekanisme untuk menjawab umpan balik dari para pengguna dan dapat mengurangi risiko kebocoran data.
ANTARA
Mendorong Pemahaman Digital bagi Pedagang Pangan dengan QRIS
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







