**Borneonews - Depok**, Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Universitas Indonesia (UI), melalui Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), melaksanakan program edukasi mengenai pengolahan limbah plastik menjadi *ecobrick* di Desa Sukarame, Banten.
Ketua Pengmas UI, Ns. Suryane Sulistiana Susanti, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam program ini tidak hanya mengajarkan cara pembuatan *ecobrick*, tetapi juga berupaya menanamkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah plastik yang berkelanjutan. Menurutnya, *ecobrick* adalah inovasi yang dapat mengubah sampah plastik menjadi sumber daya yang bermanfaat.
*Ecobrick* merupakan solusi yang revolusioner di mana botol plastik bekas diisi penuh dengan sampah plastik, hingga tercapai tingkat kepadatan tertentu. Dengan menggunakan metode ini, kita dapat mengubah limbah menjadi bahan yang bernilai, ungkapnya. Botol-botol plastik yang telah diolah ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan yang kuat dan ramah lingkungan, sehingga memberi solusi bagi masalah limbah plastik yang selama ini menjadi beban.
Lebih lanjut, Suryane menambahkan bahwa proses pembuatan *ecobrick* tidak memerlukan alat atau keahlian khusus, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Alat sederhana yang dibutuhkan antara lain botol plastik bekas, sampah plastik bersih yang dikecilkan, dan kayu untuk memadatkan sampah dalam botol tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa dalam pembuatan *ecobrick* terdapat standar yang harus dipenuhi. Contohnya, untuk botol berukuran 600 ml, berat *ecobrick* yang dihasilkan harus mencapai minimal 200 gram.
Keunggulan lain dari *ecobrick* adalah fleksibilitas penggunaannya. Produk yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kreativitas masyarakat lokal. Harapan ke depan adalah masyarakat dapat menjual hasil karya dari *ecobrick* secara mandiri. Dengan cara ini, inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga memberikan sumber pendapatan baru bagi penduduk setempat.
Potensi besar yang dimiliki oleh *ecobrick* juga mendapat sambutan positif dari berbagai pihak di Desa Sukarame, termasuk pemerintah desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Mereka menyatakan dukungan untuk melanjutkan inisiatif ini. Salah satu rencana yang sedang digagas adalah pembentukan kelompok bank sampah desa, yang berfokus pada pengumpulan dan pengolahan limbah plastik menjadi *ecobrick*. Kerja sama dengan pemerintah setempat dan provinsi diharapkan dapat memperkuat program pengelolaan limbah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Hasan Basri, Direktur Eksekutif BUMDes Selat Sunda Sukarame, menyatakan optimisme bahwa program ini dapat menjadikan Desa Sukarame sebagai contoh bagi desa-desa lain dalam menangani limbah plastik secara inovatif dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa *ecobrick* memberikan peluang besar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari apa yang sebelumnya dianggap sampah.
Untuk lebih mendalami potensi yang ada, Tim Pengmas UI bersama BUMDes Selat Sunda Sukarame merencanakan pelatihan tambahan dan lokakarya yang akan melibatkan lebih banyak masyarakat. Tujuan dari program pelatihan ini adalah memperluas pemahaman tentang *ecobrick* dan mengintegrasikan teknik ini ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pembangunan infrastruktur desa.
Rencana pemasaran untuk produk-produk berbasis *ecobrick* juga tengah disusun, dengan harapan dapat menarik perhatian pasar yang lebih luas. Langkah-langkah ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, serta meningkatkan kesadaran akan pengelolaan limbah plastik baik di tingkat lokal maupun nasional.
Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D., Plh Dekan FIK UI, memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini. Ia merasa bangga melihat tingkat antusiasme masyarakat Sukarame. Menurutnya, program ini bukan hanya memberikan solusi terhadap masalah limbah, tetapi juga membuka pemahaman baru bahwa sampah plastik dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
"Ini adalah contoh nyata bagaimana pendidikan dapat memberdayakan dan membawa perubahan positif di masyarakat," tuturnya.
Tim Pengmas UI terdiri dari delapan mahasiswa FIK dan satu mahasiswa dari FMIPA. Mereka antara lain adalah Ns. Qurrata Aini, M.Kep, Ajeng Pribadi Salam, Fadly Rasyid Maulana, Tamara Khairina, Nabella Elva Shakila, Zahra Putri Prasetya, Choirunnisaa Wardhani, dan Fikoh Farikhatun, serta Annesa Hanabila dari FMIPA. Keberadaan tim ini menandakan komitmen UI dalam memberikan kontribusi positif kepada masyarakat melalui pengabdian yang berbasis pada pendidikan dan inovasi.
ANTARA
Edukasi Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Ecobrick di Sukarame
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Fredy Setiawan Raih Perak Para Bulu Tangkis, Akui Kurang Puas
Kholidin/Noviera Melaju ke Final para Panahan Asian Para Games 2026
Gempa Tibet Tewaskan 16 Orang, 54 Lainnya Terluka
DPRD Kotim Dorong Anggaran Rp3,3 M untuk Laboratorium Lingkungan demi Optimalkan PAD
Leli/Osrita Raih Perunggu para Tenis Meja Ganda Putri WD10
Karhutla di Belakang SMKN 3 Kuala Kapuas Merembet ke Bangunan Warga
Komentar (0)
Memuat komentar…







