MAKASSAR –
**Borneonews - Makassar**, Penerimaan cukai di wilayah Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) untuk periode Januari hingga Juli 2024 telah mencapai angka Rp256,98 miliar. Jumlah ini menunjukkan capaian sekitar 60,30 persen dari target yang ditetapkan, yaitu Rp426,18 miliar. Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai dari Kanwil DJBC Sulbagsel, Alimuddin Lisaw, memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian tersebut. Dalam pernyataannya di Makassar, dia menyebutkan bahwa pengaruh utama berasal dari kebijakan penyesuaian *Cukai Hasil Tembakau* (CHT). Menurut Alimuddin, meskipun capaian saat ini telah terlihat cukup baik, proses penerimaan masih terus berlangsung dan diperkirakan akan melebihi target yang ada jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa realisasi penerimaan bea dan pajak umumnya diharapkan akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu, terutama menjelang pertengahan tahun dan mencapai puncaknya pada akhir tahun. Dijelaskan juga bahwa kenaikan penerimaan tidak hanya disebabkan oleh penyesuaian CHT, tetapi juga akibat kenaikan harga serta volume ekspor komoditas, seperti *Palm Kernel*, serta realisasi impor gula. Rincian dari penerimaan yang tercatat menunjukkan bahwa pendapatan dari cukai mencapai Rp47,73 miliar, yang mencerminkan sekitar 50,34 persen dari target. Sementara itu, penerimaan dari Bea Masuk berada di angka Rp167,92 miliar, mencapai 63,45 persen, dan Bea Keluar sebesar Rp41,34 miliar dengan proporsi 61,95 persen. Alimuddin memaparkan bahwa target penerimaan cukai ditetapkan sebesar Rp94,82 miliar, Bea Masuk Rp264,64 miliar, dan Bea Keluar Rp66,73 miliar. Ia menegaskan bahwa capaian saat ini telah melampaui 50 persen dari target yang ditentukan. Lebih lanjut, Alimuddin menegaskan peran Bea Cukai sebagai pengayom masyarakat. Selain itu, pajak juga berkontribusi dalam meningkatkan penerimaan melalui tindakan pemberantasan terhadap rokok ilegal yang dilakukan melalui operasi penindakan. Dia juga mencermati bahwa dominasi pertumbuhan penerimaan dari Bea Keluar hingga Juli 2024 mengalami peningkatan sebesar 74,38 persen. Hal ini dianggap sebagai respons terhadap pemenuhan permintaan yang sebelumnya tertunda, terutama akibat fluktuasi harga ekspor kakao yang tinggi. ANTARA