MANADO –
**Borneonews - Manado**, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Utara, D Tino Tandaju, menyatakan bahwa optimalisasi program *Kampung Keluarga Berkualitas* dapat mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Menurut D Tino, penting bagi semua pihak untuk memaksimalkan peran Kampung Keluarga Berkualitas untuk menurunkan prevalensi stunting. Di Tutuyan, Kabupaten Boltim, D Tino mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama berkontribusi dalam mengatasi masalah stunting. Mekanisme keberadaan *Kampung KB* diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendorong pembangunan sektor terkait yang bertujuan untuk membentuk keluarga kecil yang berkualitas. D Tino juga menyerukan agar pemerintah daerah bersama dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan mitra kerja terlibat dalam kolaborasi yang berkesinambungan. Hal ini dianggap krusial guna mencapai target yang ditetapkan dalam pengurangan angka prevalensi stunting di kabupaten tersebut. Ia menjelaskan bahwa terdapat sepuluh langkah strategis yang dibagi menjadi tiga tahapan dalam upaya mengurangi stunting, yaitu persiapan, pengukuran, dan pelaporan. D Tino optimis bahwa jika ketiga aspek ini diimplementasikan secara maksimal, maka langkah pencegahan stunting akan lebih efektif dan memberikan hasil yang signifikan. Lebih lanjut, D Tino menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan mitra kerja untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu. Aktifnya peran TPPS di tingkat kecamatan dan kelurahan sangat diperlukan untuk mendukung program ini. Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Boltim, Fera Maria Sewow, memberikan apresiasi terhadap sosialisasi yang dilakukan oleh BKKBN Sulut. Ia menyatakan harapannya agar program orientasi dalam pengelolaan *Kampung Keluarga Berkualitas* dapat meningkatkan pemahaman serta kompetensi para pengelola program KB. Program ini juga diharapkan menjadi acuan dalam upaya percepatan penurunan angka stunting. Menurut data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Kabupaten Bolaang Mongondow tercatat mencapai 30 persen. Namun, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka tersebut turun menjadi 28,4 persen. Target yang ditetapkan untuk prevalensi stunting pada tahun ini adalah 15,99 persen. Melihat tren ini, diharapkan adanya peningkatan efektivitas dalam program-program pencegahan yang dilaksanakan. ANTARA