MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini memberikan perhatian serius terhadap penanganan kasus dugaan tambang emas yang ilegal di kawasan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Kasus ini melibatkan pekerja asing asal China yang beroperasi di area tambang rakyat tersebut. Amri Nuryadin, Direktur WALHI NTB, menegaskan bahwa insiden pembakaran kamp tambang di Sekotong memicu perlunya tindakan dari pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya. Ia menyarankan agar dilakukan tata kelola yang lebih baik dan perbaikan sistem sumber daya alam di NTB. Sebagai langkah awal, diperlukan penyelidikan sosial untuk mengidentifikasi daerah potensi konflik agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa mendatang. Amri juga mengingatkan bahwa aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, perlu menunjukkan tindak lanjut yang tegas dan cepat terhadap masalah ini. Ia menambahkan bahwa konflik tambang di Sekotong sudah berkembang cukup lama, sehingga lambannya tindakan aparat justru memperburuk kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah tersebut. WALHI telah melakukan pemetaan yang menunjukkan bahwa lokasi yang terbakar adalah bagian dari area yang sebelumnya pernah dikelola oleh PT Indotan. Dalam upaya lebih lanjut, WALHI berencana untuk melakukan penyelidikan lapangan, tidak hanya guna menilai dampak kerusakan lingkungan, tetapi juga untuk menyelidiki aktivitas tambang yang melibatkan pekerja asing tersebut. "Kami berencana untuk turun ke lapangan dalam waktu dekat," ujar Amri. Sementara itu, Kombes Pol. Rio Indra Lesmana, Kepala Bidhumas Polda NTB, mengonfirmasi terkait perkembangan kasus pembakaran kamp tambang emas yang diduga ilegal. Ia mengungkapkan bahwa pihak kepolisian belum menemukan petunjuk yang jelas mengenai keberadaan pekerja asing asal China maupun pelaku pembakaran. "Kami belum menerima laporan dan masih mencoba mengidentifikasi pelakunya. Kami juga telah memberikan asistensi kepada Polres Lombok Barat untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam," jelasnya. ANTARA