JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Ke-60 Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada 5 November mendatang, fokus perhatian publik teralihkan kepada persaingan ketat antara dua calon presiden, yaitu Kamala Harris dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Dalam konteks ini, tujuh negara bagian kunci memiliki peran yang sangat signifikan dan menjadi sorotan utama. Ketujuh negara bagian yang dimaksud adalah Arizona, Nevada, Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia. Negara-negara bagian ini memiliki karakteristik pemungutan suara yang cenderung tak terduga, dan sering kali menjadi penentu dalam pilihan pemilih, sehingga hasil pemilihan di wilayah ini sangat berarti. Konsekuensi dari hasil pemungutan suara di negara bagian tersebut berkaitan langsung dengan sistem pemilihan di AS, yang dikenal dengan sebutan *Electoral College*. Setiap negara bagian memiliki jumlah pemilih (electors) yang sesuai dengan perwakilan mereka di Kongres, yang merupakan gabungan dari jumlah senator dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari negara bagian tersebut. Dalam mekanisme ini, pemilihan presiden tidak dilakukan secara langsung oleh rakyat, melainkan oleh 538 pemilih elektoral. Oleh karena itu, calon presiden memerlukan mayoritas suara, yaitu minimal 270 suara elektoral untuk dapat memperoleh kursi kepresidenan. Sistem ini membuat penting bagi kandidat untuk mendapatkan suara terbanyak di tiap negara bagian, yang pada umumnya akan mengalihkan semua suara elektoral dari negara bagian tersebut kepada mereka. Walaupun negara-negara bagian besar seperti California dan Texas menunjukkan pola dukungan partai politik yang relatif konsisten — dengan California cenderung mendukung Demokrat dan Texas lebih condong kepada Republik — hasil pemilihan di tujuh negara bagian kunci ini tetap tidak terduga dan memiliki dampak yang sangat besar. Dengan hasil pembaruan suara elektoral berdasarkan sensus 2020, negara-negara ini kembali menjadi pusat perhatian, dengan total 93 suara elektoral yang diperebutkan. Pada pemilihan 2016, Donald Trump memenangkan pemilihan meskipun mendapatkan lebih sedikit suara populer dibandingkan dengan lawannya, Hillary Clinton, namun berhasil meraih 304 suara elektoral dengan membuktikan dirinya unggul di negara-negara bagian kunci. Saat ini, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa persaingan antara Harris dan Trump di wilayah-wilayah ini semakin ketat. Data dari Real Clear Politics (RCP) mengindikasikan bahwa Trump memimpin di lima dari tujuh negara bagian kunci dengan selisih kurang dari satu persen. Secara nasional, Harris sedikit lebih unggul dibandingkan Trump, tetapi ketatnya persaingan di negara-negara bagian yang strategis menunjukkan bahwa kemungkinan hasil pemilihan sangat terbuka. Menuntut perhatian lebih, pemilihan presiden kali ini terulang kembali dalam dinamika yang teramat sengit dengan dua kandidat tersebut terus beradu argumen dan strategi demi merebut hati pemilih. Potensi hasil dari ketujuh negara bagian ini diharapkan akan menentukan siapa presiden yang akan menduduki kursi kepemimpinan berikutnya. **Delegasi di negara bagian kunci** Dalam konteks delegasi, Arizona memiliki 11, Nevada 6, Wisconsin 10, Michigan 15, Pennsylvania 19, North Carolina 16, dan Georgia 16. Untuk menggambarkan pentingnya hasil di negara bagian ini, jika salah satu kandidat berhasil mengamankan suara di Pennsylvania, North Carolina, dan Michigan, maka mereka akan mengumpulkan total 50 delegasi dari ketiga negara bagian tersebut. Sebaliknya, kehilangan suara di empat dari tujuh negara bagian ini dapat mengurangi peluang kandidat secara signifikan untuk memenangkan pemilihan. Pemilihan Presiden 2016 menunjukkan bagaimana Trump bisa menang dengan jumlah suara lebih sedikit dari lawan, melalui keberhasilannya mendapatkan 304 delegasi yang diperoleh dari performa baik di negara-negara utama. **Negara bagian kunci dalam pertarungan Harris-Trump** Krisis internal dalam tim kampanye juga menarik perhatian, seperti ketika Presiden AS Joe Biden diumumkan menarik diri dan memberikan dukungan kepada Harris pada 21 Juli. Sejak saat itu, Trump mendominasi jajak pendapat baik nasional maupun di negara bagian kunci. Setelah pencalonan Harris, persaingan semakin ketat dengan kedua kandidat sekarang hampir berimbang dalam jajak pendapat di negara-negara bagian kunci. Hingga saat ini, dukungan Harris tercatat sekitar 47,3 persen, berhadapan dengan Trump yang memimpin sedikit di lima negara bagian kunci, dengan rata-rata dalam jajak pendapat terbaru menunjukkan keduanya berada dalam kisaran yang sangat dekat. Fakta bahwa Trump yang pada awalnya unggul kini hampir imbang dengan Harris, menunjukkan bahwa pemilihan kali ini kemungkinan besar akan berlangsung sangat kompetitif antara kaum pemilih Democrat dan Republican. **Dinamika negara bagian: Ekonomi, debat tentang aborsi, dan isu keamanan** Jajak pendapat nasional mengungkapkan bahwa isu inflasi dan ekonomi, perdebatan mengenai aborsi, serta keamanan perbatasan menjadi perhatian utama pemilih. Selanjutnya, kebijakan AS terhadap Gaza juga muncul sebagai isu penting dalam pemilihan ini. Michigan, dengan populasi Muslim dan Arab-Amerika terbesar, mencatat lonjakan pemilih independen yang dipicu kekritisan terhadap kebijakan Biden terhadap Gaza. Ketidakpuasan ini menunjukkan bahwa pemilih potensial ini mungkin tidak akan memberikan suara kepada Biden, bahkan tidak melirik Trump sebagai pasangan alternatif yang layak. Sementara itu, di Wisconsin, yang menjadi negara bagian penting bagi Partai Demokrat sejak 2000 — kecuali pada 2016 ketika Trump merebut kemenangan — isu mengenai kondisi ekonomi menjadi hal krusial bagi pemilih. Status pemilihan di Pennsylvania pun menggambarkan tantangan serupa, di mana hasil tiap pemilihan seringkali diperoleh dengan selisih hampir tidak signifikan. Georgia pun menjadi sorotan sebagai negara bagian yang kontroversial sejak pemilihan sebelumnya, berakibat pada hasil yang dipertanyakan dan perselisihan hukum. Di wilayah ini, yang baru-baru ini condong lebih ke Republik, Trump menang di 2016 tetapi kalah tipis dari Biden pada 2020, menandai perjalanan politik yang menarik untuk diikuti dalam Pilpres mendatang. ANTARA