JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Siti Fauziah, menekankan pentingnya seorang pustakawan untuk membangun *personal branding*. Hal ini dianggap krusial karena dapat memengaruhi citra positif dari perpustakaan di mata pengunjung, sehingga menjadikan perpustakaan sebagai pusat informasi yang dihormati dan dipercaya. Menurutnya, dengan memiliki *personal branding*, pustakawan akan lebih mudah dikenali dan diingat oleh masyarakat. Di samping itu, pustakawan juga akan menjadi sumber informasi yang profesional dan dapat diandalkan. Siti Fauziah menyampaikan pandangannya tersebut dalam Seminar Perpustakaan MPR, yang bertema "Membangun *Personal Branding* Pustakawan di Era Digital", yang diselenggarakan di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen. Di era digital yang ditandai oleh kemajuan yang cepat, Siti Fauziah menyatakan bahwa *personal branding* merupakan suatu keharusan yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan. Ia mencatat bahwa peminjaman buku secara manual di perpustakaan sudah semakin jarang terjadi. Hal ini disebabkan oleh perubahan secara drastis mengikuti perkembangan teknologi yang ada. “Sekarang, seluruh sumber informasi perpustakaan dapat diakses dengan mudah melalui *smartphone* atau perangkat digital lainnya yang dimiliki oleh masyarakat,” ucapnya. Oleh karena itu, peran pustakawan kini tidak hanya terbatas pada pengelolaan buku atau sumber daya fisik lainnya. Pustakawan kini dituntut untuk berfungsi sebagai fasilitator informasi yang aktif, inovatif, dan dapat dipercaya. Siti Fauziah menegaskan bahwa para pustakawan harus mengikuti perkembangan ini agar tidak tertinggal. "Di era ini, membangun *personal branding* menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan," jelasnya. Dia juga mengingatkan bahwa proses dalam membangun *personal branding* bukanlah hal yang dapat dilakukan secara instan. Melainkan, hal ini adalah sebuah perjalanan yang memerlukan waktu, konsistensi, dan dedikasi. “Kita berharap seminar ini dapat menciptakan ruang bagi para pustakawan untuk saling bertukar ide, pengalaman, dan pengetahuan demi pengembangan diri di era digital ini,” pungkasnya. ANTARA