BOGOR –
**Borneonews - Depok**, Tim Peneliti Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) meraih penghargaan tertinggi di Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-15 tahun 2024. Prestasi ini dicapai berkat pemanfaatan teknologi *Artificial Intelligence* (AI) dalam proses pengolahan, penerjemahan, serta transkripsi naskah kuno yang menggunakan aksara China tradisional. Kepala UPT Perpustakaan UI, Mariyah, menyatakan bahwa dengan kemajuan teknologi AI, pengguna perpustakaan dapat lebih mudah menemukan serta memahami isi dari naskah-naskah kuno tersebut, meskipun mereka belum pernah mempelajari tulisan dan bahasa China tradisional. Hal ini menunjukkan potensi besar dari teknologi AI dalam dunia literasi. Penelitian yang dilakukan oleh Mariyah S Sos M Hum dan Sony Pawoko S Sos MTI menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pengkatalogan naskah kuno sangat mempermudah proses tersebut. Teknologi ini kini diintegrasikan dalam sistem yang ada di Perpustakaan UI. Saat ini, UI memiliki sekitar 10.000 judul naskah kuno yang ditulis dalam aksara China tradisional. Naskah-naskah tersebut tidak hanya memiliki nilai historis yang signifikan bagi Indonesia, tetapi juga memberikan wawasan yang mendalam mengenai kehidupan, budaya, hukum, pemerintahan, dan filosofi dari peradaban Tiongkok selama berabad-abad. Salah satu teknologi yang digunakan, yaitu *Optical Character Recognition* (OCR) yang berbasis *deep learning* dan tersedia melalui Google Lens, berhasil mengenali karakter China tradisional dengan tingkat akurasi yang tinggi. Ini memungkinkan penyalinan teks dilakukan dengan sangat baik, sehingga memudahkan proses penerjemahan terhadap naskah kuno tersebut. Menurut Sony, banyak naskah kuno China tradisional yang berkaitan dengan sumber primer sejarah Indonesia. Contohnya adalah prasasti Kudadu dan Kakawin Negara Kertagama yang membahas tentang berdirinya Kerajaan Majapahit. Kedua sumber tersebut memerlukan dukungan literatur dari China yang berasal dari masa yang sama. Literatur kontemporer yang dimaksud ditulis selama dinasti Yuan, termasuk prasasti yang dibuat oleh jenderal-jenderal yang dikirim oleh Kubilai Khan dalam rangka menaklukkan Nusantara. Misi tersebut juga merupakan pembalasan atas tindakan Raja Kertanegara dari Singhasari, yang enggan tunduk kepada kekaisaran Mongol, bahkan melakukan kekerasan terhadap utusannya, Men Shi. "Dari sumber sezaman dari China ini, kita dapat melengkapi 5W + 1H dari penulisan sejarah yang belum lengkap," ungkap Sony. Pada prasasti Pasir China yang ditemukan di Pulau Serutu, tertulis mengenai penyerangan ke Pulau Jawa oleh Dinasti Yuan yang menggunakan 500 kapal. Jika satu kapal dapat mengangkut 50 orang, maka berdasarkan catatan jenderal seperti Shi-bi, Ike Mese, dan Gaoxing, jumlah pasukan yang terlibat mencapai antara 20.000 hingga 30.000 prajurit. Catatan ini juga memberikan informasi mengenai waktu kedatangan dan serangan terhadap Daha. Mariyah menambahkan bahwa temuan-temuan ini menciptakan kebanggaan tersendiri karena membuka jalan bagi pengolahan naskah-naskah kuno China tradisional yang selama ini terabaikan dan belum dilayani dengan baik bagi para pemustaka. KPDI ke-15 yang dihadiri oleh lebih dari 350 peserta bertujuan untuk menjadi platform untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta gagasan dalam penerapan dan pemanfaatan AI di bidang perpustakaan digital. Konferensi ini mencakup rangkaian acara seperti presentasi makalah, workshop, diskusi panel, pameran, dan juga memperkenalkan budaya serta seni Lampung. Sejumlah 110 makalah diajukan dalam acara ini, namun hanya 16 yang terpilih untuk dipresentasikan di konferensi KPDI ke-15. ANTARA