**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) akan mulai menerapkan *SATUSEHAT Health Pass* di semua pintu masuk negara sebagai upaya untuk mencegah potensi penularan mpox. Langkah ini diambil menjelang diselenggarakannya event penting seperti Indonesia Afrika Forum (IAF) dan High-Level Forum on Multi Stakeholder Partnership (HLF-MSP) di Bali, yang dijadwalkan pada 1-3 September.
Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes, Achmad Farchanny Tri Adryanto, mengungkapkan bahwa di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai, akan dilakukan pengawasan berlapis melalui pendekatan deklarasi kesehatan yang perlu diisi oleh setiap pelaku perjalanan. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi adanya gejala mpox sebelum mereka memasuki wilayah Indonesia.
Setiba di Indonesia, pelaku perjalanan akan menjalani pemeriksaan gejala menggunakan *thermal scanner* dan observasi visual untuk mengidentifikasi tanda maupun gejala yang mencurigakan. Apabila ada individu yang terdeteksi sebagai suspek di bandara, Kemenkes akan memfasilitasi pemeriksaan melalui Tes Cepat Molekular (TCM) yang dilakukan di laboratorium mini yang telah disediakan. Selain itu, tim medis akan siap siaga untuk menangani keadaan darurat dan penyakit berpotensi wabah.
Kemenkes juga berencana menyiapkan fasilitas mini laboratorium dan mini ICU di tempat penyelenggaraan IAF dan HLF-MSP agar dapat langsung melakukan akses terhadap TCM. Hal ini diharapkan dapat mempercepat penanganan jika ditemukan kasus-kasus baru.
Penyakit mpox saat ini mengalami peningkatan kasus di sejumlah negara di kawasan Afrika, sebagaimana yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (*World Health Organization*, WHO). Secara umum, mpox dibagi menjadi dua klade. Klade 1 lebih umum di negara-negara Afrika dan menunjukkan gejala yang lebih serius, sedangkan Klade 2 predominant di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dengan gambaran gejala yang lebih ringan.
Kemenkes mencatat bahwa terdapat 88 kasus mpox di Indonesia selama periode 2022 hingga Agustus 2024, semuanya telah dinyatakan sembuh. Untuk lima kasus suspek yang terbaru, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil negatif.
Merespons meningkatnya kasus mpox, terutama dari negara-negara Afrika yang ikut berpartisipasi dalam acara mendatang, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, menyatakan keyakinan bahwa mpox tidak akan berkembang menjadi pandemi seperti halnya COVID-19. Tjandra, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular di WHO Asia Tenggara, menjelaskan bahwa meskipun WHO menetapkan mpox sebagai wabah dengan status *outbreak a public health emergency of international concern*, situasi ini masih dapat dikendalikan.
Ia menjelaskan bahwa telah terdapat tujuh hingga delapan wabah yang digolongkan dalam kategori serupa, tetapi mayoritas berhasil dikelola dengan baik tanpa berujung pada status pandemi. Keyakinannya didasarkan pada beberapa faktor, antara lain pengalaman yang diperoleh dari pandemi COVID-19 dan perbedaan mekanisme penularan mpox yang berlangsung melalui kontak kulit, berbeda dengan COVID-19 yang menular melalui partikel yang dapat tersebar melalui pernapasan.
Walaupun demikian, Tjandra mengingatkan bahwa penanganan mpox tetap harus dilakukan dengan angka maksimal. Hal ini meliputi surveilans terhadap suspek, diagnosis yang akurat, terapi untuk pasien, serta penyuluhan kesehatan yang komprehensif. Di sisi lain, ia juga membuka peluang bahwa dalam waktu dekat, vaksin untuk mpox mungkin sudah tersedia, mengingat pengalaman sebelumnya dalam pengembangan vaksin COVID-19.
ANTARA
Kemenkes Terapkan Health Pass untuk Cegah Penularan Mpox di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Komentar (0)
Memuat komentar…







