JAKARTA –
**Borneonews - [Ankara]**, Komisioner Eropa untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis, Janez Lenarcic, mengeluarkan pernyataan keras terhadap serangan militer yang dilakukan oleh tentara Israel di Tepi Barat. Dalam pernyataannya, Lenarcic menyebutkan bahwa situasi di wilayah yang diduduki tersebut semakin memburuk akibat penggunaan kekuatan militer secara sembarangan oleh Israel dan kekerasan yang ditujukan pada warga sipil oleh pemukim. Lenarcic juga menekankan dampak serius dari penghancuran besar-besaran yang terjadi terhadap rumah dan infrastruktur, yang menurutnya bertentangan dengan hukum internasional serta hak asasi manusia. Pada hari Rabu, 28 Agustus, tentara Israel meluncurkan operasi militer dengan skala besar di bagian utara Tepi Barat. Operasi ini dilaporkan sebagai yang terbesar dalam dua dekade terakhir, menewaskan 17 warga Palestina menurut informasi dari kantor berita resmi Palestina, Wafa. Kepala Urusan Luar Negeri Israel, Israel Katz, telah mengeluarkan himbauan untuk melakukan evakuasi sementara terhadap warga sipil Palestina. Ia mengisyaratkan perlunya langkah-langkah ekstra untuk memastikan kelancaran operasional tersebut. Sementara itu, serangan yang terus berlanjut di Jalur Gaza telah mengakibatkan konsekuensi tragis setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober lalu. Meski telah ada resolusi dari Dewan Keamanan PBB untuk segera menghentikan serangan, Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mengurangi intensitas serangan. Data terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 40.500 warga Palestina telah kehilangan nyawa, kebanyakan di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 93.700 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Situasi di Gaza semakin parah dengan adanya blokade yang menyebabkan kelangkaan pangan, air bersih, dan obat-obatan, sehingga membuat sebagian besar wilayah di sana berada dalam keadaan hancur. Lebih jauh, Israel kini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional, yang meminta agar operasi militer di kota selatan Rafah dihentikan. Rafah sendiri menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina sebelum wilayah tersebut diserbu pada 6 Mei. ANTARA