BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pihak kepolisian dan instansi terkait harus serius memberikan sanksi tegas kepada pelaku pembakar lahan. Selama dua pekan terakhir, titik api akibat pembakaran lahan dengan cara disengaja sudah ditemukan di beberapa twilayah seperti di Kumai dan Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Nampak dalam grup telegram, Babinsa bersama BMKG dan BPBD Kobar yang tergabung dalam tim penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membagikan beberapa foto dan kegiatan pemadaman api di lahan milik warga. Lahan-lahan tersebut sengaja dibakar karena akan ditanami pohon kelapa sawit.
"D Kumpai Batu Atas arah Dukuh Mola, masyarakat bakar lahan," tulis seorang anggota grup bernama Murdoko dibarengi foto lahan yang terbakar.
Anggota lainnya dalam grup BMKG tersebut mengatakan, lahan tersebut sudah dibuldozer namun masih saja pemilik lahan berani membakarnya.
"Kenapa mesti dibakar ya padahal sudah di buldozer," tulisnya.
Sementara itu seorang anggota Babinsa yang terjun ke lapangan mengatakan, lahan tersebut milik Suroso, warga desa setempat yang berniat menanam pohon sawit di lahan yang dibakarnya tersebut.
"Iya, Pak. Benar lahan tersebut milik Bapak Suroso, rencana untuk tanam sawit," tulis anggota Babinsa itu.
Pembakaran lahan tersebut terjadi di Desa Kumpai Batu Atas, Kecamatan Arut Selatan. Masih di kecamatan yang sama, pembakaran lahan dengan cara sengaja juga terjadi di Kelurahan Sidorejo, Senin (11/7/2016) sekitar pukul 13.00 WIB.
Lahan tersebut diketahui oleh Tim Penanganan Karhutla Kabupaten Kobar setelah dibakar oleh pemiliknya bernama Matkolor. Tim Penanganan Karhutla kemudian menyemprotkan air ke lahan yang tengah dilalap api itu.
"Sosoalisasi sudah sampai berliur mulut, Pak. Masyarakat tidak mau tahu. Ini perlu tindakan tegas," kata salah salah satu Babinsa yang terjun dalam menjinakkan api di lahan tersebut.
BMKG Kobar juga mencatat, hotspot atau titik api mulai bermunculan di wilayah Kabupaten Kobar. Hal itu diduga akibat terjadi kebakaran di lahan atau hutan.
"Hotspot api mulai terpantau sejak beberpa hari lalu, seperti di Kecamatan Kumai, dan Arsel," kata Kepala BMKG Pangkalan Bun, Lukman Soleh. (CECEP HERDI/m)








