JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Agama Republik Indonesia mendorong para pengelola pesantren serta lembaga pendidikan keagamaan untuk memperkuat penggunaan aksara *pegon* dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan agar warisan budaya yang telah ditinggalkan oleh para ulama Nusantara tidak punah. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag, Basnang Said, menjelaskan bahwa beberapa aksara lokal saat ini mulai hilang seiring dengan kurangnya upaya pelestarian. Ia mengungkapkan pentingnya menjaga warisan budaya ini agar tetap ada dalam kehidupan masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan, lanjut Basnang, adalah dengan menampilkan aksara *pegon* di berbagai tempat, seperti di gerbang pesantren atau papan nama yang ada di depan lembaga pendidikan. Ia menekankan bahwa jika narasi yang terpampang di area tersebut ditulis dengan menggunakan aksara *pegon*, maka usaha untuk melestarikannya sebagai bagian dari khazanah budaya ulama Nusantara dapat terwujud. Kementerian Agama juga berkomitmen untuk melestarikan aksara ini dengan berbagai upaya, di antaranya melalui digitalisasi. Tahun ini, Kemenag telah meluncurkan papan ketik virtual aksara *pegon*, yang diharapkan akan mempermudah masyarakat dalam menggunakan aksara tersebut. Melalui aplikasi aksara *pegon* yang dapat diunduh, pengguna diharapkan bisa mengekspresikan ide maupun berkomunikasi menggunakan perangkat digital seperti telepon pintar, laptop, dan tablet. Kemenag sedang berupaya untuk memastikan bahwa digitalisasi aksara ini dapat diimplementasikan secara efektif di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Basnang menjelaskan bahwa salah satu bentuk digitalisasi yang sedang dipersiapkan adalah penyediaan perangkat digital yang memuat kitab kuning, di mana makna teks tersebut dapat dijelaskan menggunakan aksara *pegon*. Ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam studi keagamaan. Meskipun saat ini aksara *pegon* masih digunakan, penggunaannya umumnya terbatas pada komunitas santri. Di luar lingkungan tersebut, banyak orang yang mungkin tidak mengenal bahkan tidak tahu mengenai aksara yang memiliki sejarah penting ini. Aksara *pegon* dulunya digunakan untuk menuliskan teks-teks keagamaan, karya sastra, surat-menyurat, serta mantra, yang menunjukkan betapa kayanya warisan budaya tersebut. Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan aksara *pegon* dapat kembali hidup dan dikenali oleh masyarakat luas. ANTARA