JAKARTA –
**Borneonews - Jenewa**, Sejumlah aktivis yang mendukung Palestina menggelar demonstrasi di depan kantor parlemen wilayah Jenewa pada hari Kamis. Mereka menuntut upaya tegas dari pemerintah setempat terkait serangan militer Israel yang terjadi di Gaza dan di wilayah Tepi Barat. Para demonstran berkumpul di pusat kota Jenewa, mengirimkan pesan kuat dengan meneriakkan slogan-slogan yang mendukung rakyat Palestina. Mereka juga mengkritisi pemerintah Swiss, yang dianggap lamban dalam mengambil sikap yang jelas terhadap tindakan Israel. Dalam aksinya, para aktivis menyerukan adanya boikot terhadap produk-produk yang berasal dari Israel. Rania, seorang aktivis Swiss yang memiliki latar belakang Palestina dan merupakan salah satu penyelenggara aksi, menekankan ketidakpuasan terhadap pemerintah daerah. Ia menyatakan bahwa pemerintah wilayah tidak menunjukkan tindakan apa pun dan tidak berupaya berkoordinasi dengan pemerintah federal untuk merubah kebijakan yang ada. Rania juga menggambarkan dengan jelas situasi yang semakin memprihatinkan di Gaza, di mana banyak warga yang terpaksa mengungsi dan menjadi korban. Ia mengindikasikan bahwa sejak bulan Oktober tahun lalu, lebih dari 500 orang di Tepi Barat telah kehilangan nyawa mereka akibat kekerasan yang sedang berlangsung. Lebih lanjut, Rania menggarisbawahi kurangnya partisipasi dari parlemen federal dalam isu ini, yang ia sebutkan telah mendiskusikan situasi di wilayah Palestina selama sembilan bulan tanpa mengambil langkah tegas. Ia menekankan pentingnya mengingatkan para pemimpin Swiss mengenai posisi Jenewa sebagai kota perdamaian dan komitmennya yang mendalam terhadap Konvensi Jenewa. Lara Atassi, seorang pendemo lainnya, juga menyampaikan kritik serupa kepada pemerintah Jenewa, menyoroti sikap pasif yang ditunjukkan. Ia menyatakan penolakannya terhadap dukungan yang diberikan oleh Menteri Luar Negeri Swiss, Ignazio Cassis, kepada Israel, sekaligus menuduhnya tidak berhasil mengutuk apa yang diyakini sebagai tindakan genosida. Ketegangan yang masih mengakar di wilayah Tepi Barat tampak jelas mengingat operasi militer Israel yang tak kunjung usai, menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Sejak 7 Oktober tahun lalu, data menunjukkan lebih dari 40.600 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak, telah tewas di Jalur Gaza. Laporan dari sumber-sumber Palestina mencatat bahwa setidaknya 670 warga Palestina kehilangan nyawa di Tepi Barat, dengan hampir 5.400 mengalami luka-luka, dan lebih dari 10.300 lainnya ditangkap dalam situasi yang semakin memanas ini. Dalam keputusan penting yang diambil pada 19 Juli, Mahkamah Internasional menegaskan bahwa pendudukan Israel selama bertahun-tahun atas wilayah Palestina adalah ilegal. Mereka juga mendesak agar semua permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur segera dievakuasi. ANTARA