JAKARTA –
**Borneonews - Aceh Tamiang**, Tari binih merupakan bentuk seni tradisional yang melambangkan identitas masyarakat Aceh Tamiang. Sayangnya, tarian ini telah punah dan kehilangan tempat di hati masyarakat setempat. H.M. Zainuddin menjelaskan dalam bukunya *Tarich Aceh dan Nusantara* bahwa tari binih sebelumnya dikenal dengan sebutan *piasan*, yang berarti permainan dalam bahasa Tamiang. Tarian ini umumnya dibawakan oleh sekelompok gadis muda setelah mereka menyelesaikan aktivitas memanen padi setiap tahun. Pertunjukan ini dilakukan secara berkelompok, di mana dua tim saling bergantian menari untuk menunjukkan keterampilan serta kelincahan masing-masing. Setiap kelompok tari binih terdiri dari minimal enam hingga dua belas peserta ditambah seorang *syech* atau *pengacara tari* yang dikenal dengan sebutan *petue binih*, yang biasanya merupakan perempuan tua. Pertunjukan tari ini dilakukan di dalam ruangan yang luas, di atas tikar yang telah dibentangkan. Gadis-gadis tersebut menari di atas dua lembar papan yang disusun berdempetan, mengentakkan kaki mereka mengikuti irama lagu-lagu yang berfungsi sebagai pengganti alat musik seperti gendang. Saat menari, para gadis akan mengenakan gelang di pergelangan tangan dan kaki yang berfungsi untuk menghasilkan suara gemerincing saat bergerak. Tarian ini diawali dengan pantun yang dinyanyikan oleh syech atau *petue binih*. Sayangnya, detail mengenai gerakan tari binih kini semakin kabur seiring berjalannya waktu. Dengan berlalunya waktu, tari binih mulai dilupakan dan tergeser oleh budaya lain, terutama di kalangan masyarakat Melayu Aceh Tamiang dan Aceh secara umum. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk memulihkan keberadaannya dan menguatkan fungsinya sebagai identitas dan warisan budaya yang harus dilestarikan. Proses revitalisasi sangat penting untuk menghidupkan kembali tarian ini. Dalam konteks ini, revitalisasi seperti yang dinyatakan Soedarso SP, adalah usaha untuk mengembalikan vitalitas sesuatu yang masih memiliki makna, sehingga keberadaannya perlu dijaga dan dikembangkan. Benar adanya bahwa barang yang telah hilang atau punah juga dapat dihadirkan kembali melalui pencarian, rekonstruksi, dan revitalisasi, asalkan masih ada dukungan dari pihak-pihak yang peduli. Revitalisasi seni tari tradisi rakyat dimaknai sebagai upaya untuk menghidupkan kembali tarian yang mungkin telah hilang, guna bermanfaat bagi masyarakat, baik bagi generasi saat ini maupun masa mendatang. Pelestarian seni tari rakyat perlu terus dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pertunjukan serta menjadikannya relevan dalam konteks masyarakat modern. Dalam melakukan revitalisasi, ada dua pendekatan yang bisa diterapkan, yakni pendekatan tekstual dan kontekstual. Revitalisasi tekstual mengacu pada pemampaian kembali bentuk seni spesifik dengan merestruktur atau menggabungkan elemen-elemen dari teks yang berbeda. Sementara itu, revitalisasi kontekstual meliputi penggabungan elemen seni dengan teks dari luar atau memanfaatkan satu teks untuk kepentingan teks lainnya. Contoh revitalisasi tari binih termasuk melakukan pencarian orang yang masih menyimpan pengetahuan tentang tari ini dan rekonstruksi gerak yang sesuai. Penataan gerakan harus diperhatikan agar menghasilkan koreografi yang padat dan menarik, tanpa mengurangi esensi gerak yang ada. Perubahan juga penting untuk pola lantai dan iringan tari. Dalam hal ini, modifikasi tidak boleh menghilangkan kekuatan dasar dari sajian tari. Upaya peremajaan pun mencakup rias dan busana penari, yang kini bisa menggunakan teknik dan bahan modern untuk menunjukkan keindahan dan daya tarik yang lebih tinggi. Lebih lanjut, revitalisasi tekstual dapat berarti mempertimbangkan sinergi dengan teks-teks pertunjukan lain, termasuk mengintegrasikan gerakan silat atau alat musik tradisional yang memperkaya pengalaman pertunjukan. Dengan demikian, tari binih tidak hanya ditampilkan pada acara tradisional, tetapi juga dikembangkan untuk festival budaya dan pertunjukan modern. Manfaat dari revitalisasi seni tari tradisi seperti tari binih sangat luas. Pelaku seni tidak hanya mendapatkan peningkatan kesejahteraan, tetapi juga kesempatan untuk berkolaborasi dengan seni lainnya. Masyarakat dapat menikmati hiburan berkualitas, dan para kritikus serta akademisi memiliki sumber untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut bidang seni. Pemerintah pun dapat menjadikan seni ini sebagai bagian dari industri pariwisata, menarik perhatian dan meningkatkan citra daerah. Dengan langkah-langkah proaktif dalam revitalisasi tari binih, masyarakat Aceh Tamiang memiliki potensi untuk menjadikan tari ini sebagai kebanggaan masa kini dan masa depan. ANTARA