JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menegaskan pentingnya peran gas bumi dalam mendukung transisi energi. Dalam statemen resmi yang disampaikan oleh Sekretaris BPH Migas, Patuan Alfon S, di Jakarta, baru-baru ini, ia menyampaikan bahwa lembaga ini terus berupaya untuk meningkatkan konsumsi gas domestik serta memfasilitasi penyediaan energi yang lebih bersih melalui pengaturan harga gas yang dialirkan melalui pipa. Alfon menyebutkan bahwa pengembangan jaringan distribusi gas bumi lewat pipa merupakan langkah strategis yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. Salah satu fokus utama dalam rencana tersebut adalah mendorong peningkatan penggunaan gas bumi dalam sektor industri. Dalam kesempatan tersebut, BPH Migas juga mengadakan sesi edukasi untuk mahasiswa Universitas Pertamina. Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai peran sektor hilir migas dalam konteks transisi energi, serta menekankan pentingnya optimalisasi penggunaan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Alfon melanjutkan penjelasannya dengan menyatakan bahwa kebijakan yang telah disusun oleh pemerintah berkontribusi pada penguatan peran sektor hilir migas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dia mencatat bahwa dalam era transisi energi yang sedang berlangsung, pemanfaatan gas bumi secara maksimal juga membuka peluang bagi pelaku usaha dalam sektor hilir migas. Dalam upaya menjaga lingkungan dan mengurangi emisi karbon serta menangani perubahan iklim, BPH Migas berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa. Rektor Universitas Pertamina, Wawan Gunawan Abdul Kadir, juga turut menyoroti pentingnya kontribusi dari berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai target produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas bumi sebesar 12 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Menurutnya, pencapaian tersebut sangat tergantung pada dukungan kebijakan pemerintah, peran para ahli dan akademisi di bidang migas, serta partisipasi aktif masyarakat yang dapat diperoleh melalui diskusi dan masukan yang konstruktif. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Danis Hidayat Sumadilaga, menambahkan bahwa transisi energi dan pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi) merupakan aspek krusial dalam pengembangan industri migas yang berkelanjutan. Ia menekankan perlunya regulasi yang menarik dari pemerintah untuk mendukung potensi *carbon capture and storage* (CCS) serta *carbon capture, utilization, and storage* (CCUS) sehingga industri migas Indonesia dapat bersaing secara global. ANTARA