SEMARANG –
**Borneonews - Solo**, Psikiater dari Klinik Utama Kasih Ibu Sehati yang berbasis di Kota Solo, Dr. Afinia Permanasari, menegaskan pentingnya individu yang mengalami gejala depresi untuk tidak merasa takut atau ragu dalam mencari pengobatan. Penanganan yang komprehensif dan lebih awal dapat membantu memperbaiki kondisi tersebut. Dalam sebuah sesi Bincang Kesehatan yang diadakan di Solo, ia mengimbau agar masyarakat tidak menghindar dari psikiater. Beliau menyatakan bahwa konsultasi dengan psikiater tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa berat, tetapi juga bagi mereka yang menghadapi masalah kesehatan mental. Dr. Afinia menjelaskan bahwa jika seseorang mengalami gejala seperti *burnout*, kelelahan berkelanjutan, stres, mudah marah, dan kecemasan, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Ia mennotakan bahwa saat ini, pengobatan tidak selalu melibatkan penggunaan obat-obatan, kecuali jika kondisi yang dialami tergolong sedang hingga berat. Seseorang dinyatakan mengalami depresi apabila menunjukkan beberapa gejala yang bertahan lebih dari dua minggu. Gejala tersebut meliputi perubahan mood yang drastis, kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial, perasaan bersalah berlebihan, gangguan pola makan, gangguan tidur, sikap pesimis, hingga pemikiran untuk mengakhiri hidup. Menurutnya, depresi bisa bervariasi dalam tingkat keparahannya, dari ringan, sedang hingga berat. Jika semua kriteria gejala tersebut terpenuhi, ini biasanya menunjukkan depresi berat yang memerlukan pengobatan. Ia menekankan bahwa jika seseorang mengalami diagnosa yang mengarah dari sedang ke berat, langkah selanjutnya adalah mencari pertolongan dari psikiater. Namun, jika gejalanya tergolong ringan, konsultasi dengan psikolog mungkin sudah cukup. Berkenaan dengan kesehatan mental wanita, Dr. Afinia mengungkapkan bahwa banyak kasus yang muncul saat ini melibatkan depresi, gangguan kecemasan, dan kondisi bipolar. Ia mencatat tren meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, dan perundungan atau *bullying* di masyarakat. Kasus *bully*, menurutnya, sering kali berkaitan dengan standar kecantikan yang tidak dapat dipenuhi oleh individu tertentu. Akibatnya, hal ini bisa berujung pada depresi atau gangguan makan. Dr. Afinia juga memberikan beberapa saran bagi korban perundungan untuk memperkuat mental mereka. Dia menyarankan untuk menunjukkan ketegasan dan melawan perundungan dengan cara yang positif. Menghadapi *bully* dengan sikap humoris atau tanggapan yang bijak bisa menjadi salah satu cara untuk memperkuat mental. Selain itu, memiliki pengetahuan yang luas akan mengurangi potensi seseorang menjadi korban perundungan dan depresi yang lebih parah. Acara Bincang Kesehatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Plus Size Berkain Berkebaya. Ririe Bogar, selaku pendiri, menekankan bahwa setiap perempuan berhak untuk merasa cantik, terlepas dari bentuk tubuh yang dimiliki. Acara ini bertujuan untuk mengedukasi bahwa semua perempuan, tanpa memandang ukuran tubuh, tetap memiliki keindahan. Lebih lanjut, Ririe juga mencermati pentingnya kesehatan mental perempuan, mengingat perempuan cenderung lebih sensitif. Menurutnya, perempuan perlu belajar untuk lebih memahami diri mereka sendiri dan tidak hanya bergantung pada pendapat orang lain, karena apa yang dikatakan orang belum tentu benar. Oleh karena itu, kehadiran ahli seperti psikiater dalam acara ini sangatlah penting untuk memberikan wawasan bagi mereka. ANTARA