JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Carlos Alcaraz mengungkapkan kekecewaannya setelah tersingkir di babak kedua *US Open*, di mana ia mengalami kekalahan signifikan dari petenis asal Belanda, Botic van de Zandschulp. Dalam pernyataannya, Alcaraz menjelaskan bahwa ia tidak hanya bertarung melawan lawan di lapangan, tetapi juga berjuang melawan dirinya sendiri. "Saya merasa seperti sedang melawan pikiran saya sendiri hari ini. Ada begitu banyak emosi yang tidak dapat saya kendalikan," ujarnya, sebagaimana disampaikan dalam laporan media setempat. Alcaraz, yang berada di peringkat ketiga dunia, menjelaskan bahwa ia sempat memimpin pada beberapa poin, namun kemudian kehilangan momentum dan merasakan ketidakstabilan dalam pikirannya. Petenis berusia 21 tahun ini mencatatkan kekalahan dengan skor 6-1, 7-5, 6-4. Ia mengakui bahwa penampilan van de Zandschulp, yang menduduki peringkat ke-74, sangat mengejutkannya. "Dia tidak membuat banyak kesalahan yang saya harapkan, dan itu membuat saya bingung. Saya merasa kesulitan untuk mengatasinya," jelas Alcaraz. Lebih lanjut, ia mengisyaratkan bahwa performanya tidak meningkat selama pertandingan. "Saya merasa level permainan saya tidak berubah sepanjang pertandingan, yang jelas tidak cukup untuk meraih kemenangan atau memberikan saya kesempatan untuk berjuang lebih baik," ungkap Alcaraz. Ia menambahkan bahwa perasaan tidak mampu mengendalikan jalannya pertandingan ini bukanlah pengalaman baru baginya. Kekalahan ini menambah frustrasi Alcaraz, yang mencoba memahami cara untuk mengatasi permasalahan ini. "Saat ini, saya memiliki pemikiran bahwa saya tidak akan berubah, dan itu adalah masalah yang saya hadapi," imbuhnya. Alcaraz juga menyinggung ketatnya jadwal kompetisi yang ia jalani. Meski telah beristirahat sebentar setelah mengikuti *Olimpiade*, ia merasa mungkin waktu istirahat tersebut belum cukup untuk memulihkan energinya. "Saya tidak ingin menjadikan itu sebagai alasan untuk kekalahan saya. Saya perlu merenungkannya lebih dalam dan belajar dari situasi ini," tutupnya. ANTARA