**Borneonews - Denpasar, Bali**, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan Mpox di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Panggilan untuk tindakan ini muncul setelah adanya laporan kasus di berbagai negara.
Menurut Sandiaga, arahan dari Presiden dan sejalan dengan pelaksanaan Indonesia-Africa Forum yang akan berlangsung pada akhir pekan ini, meningkatkan kewaspadaan menjadi hal yang mendesak. Penegasan ini disampaikan oleh menteri dalam acara 1st International Quality Tourism Conference (IQTC) yang berlangsung di Denpasar pada hari Jumat.
Menteri menyatakan bahwa peningkatan kewaspadaan akan mengharuskan penerapan protokol yang mencakup pengisian *electronic health declaration* atau e-HAC sebagai salah satu langkah wajib. Sebelumnya, pengisian e-HAC juga diterapkan untuk para pelancong selama masa pandemi COVID-19.
Sandiaga mencatat tiga titik penting yang harus diwaspadai, mengingat ketiganya merupakan pintu masuk utama bagi pergerakan penumpang internasional, yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Kepulauan Riau, dan Jakarta.
Pengawasan melalui *thermal scanners* dan observasi fisik harus dilaksanakan, tekan Sandiaga. Ia juga menjelaskan bahwa meskipun kewaspadaan ditingkatkan, jumlah penumpang udara tidak mengalami penurunan.
Menteri berharap bahwa munculnya kembali penyakit yang dulu dikenal sebagai monkeypox tidak akan mengganggu target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 14 juta orang. Hingga hari ini, tidak ada data yang menunjukkan penurunan jumlah penumpang, tetapi kami akan memantau situasi dengan seksama, tambahnya.
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sendiri telah memasang tiga *thermal scanners* untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada semua penumpang internasional tanpa terkecuali. Sementara itu, Indonesia direncanakan akan menjadi tuan rumah Indonesia-Africa Forum pada tanggal 1-3 September 2024 di Bali.
Mpox pernah dinyatakan sebagai *Public Health Emergency of International Concern* (*PHEIC*) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 23 Juli 2022. Namun, status tersebut dicabut pada 11 Mei 2023. Meskipun demikian, kasus baru terus dilaporkan, dengan peningkatan jumlah kasus terjadi di 16 negara, termasuk Republik Demokratik Kongo, yang terletak di Afrika tengah, pada bulan Juni 2024.
Dengan mempertimbangkan lonjakan kasus serta penularan Mpox di wilayah Afrika, WHO kembali menetapkan status *PHEIC* untuk Mpox pada tanggal 14 Agustus 2024. Penyakit ini dapat menunjukkan gejala ringan yang berlangsung dua hingga empat minggu, tetapi juga dapat berakibat fatal dengan tingkat kematian antara tiga hingga enam persen.
Sekadar informasi, jumlah akumulatif kasus Mpox di Indonesia dari tanggal 20 Agustus 2022 hingga 15 Agustus 2024 tercatat sebanyak 88 kasus, yang tersebar di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Provinsi Kepulauan Riau.
ANTARA
Menteri Pariwisata Ingatkan Waspada Mpox di Bandara Bali
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ekonomi Palangka Raya Terganggu Akibat Karhutla Berkepanjangan
Balai Bahasa Kalteng Gelar Webinar Etnisitas dan Ekologi Bahasa, Hadirkan Pakar Malaysia
Petani Rakumpit Gagal Panen Akibat Diserang Karhutla
Kadistanketpang Palangka Raya Tinjau Penyiapan Lahan Penangkaran Rusa di Kanarakan
Pemprov Kalteng Siapkan Bantuan Pangan untuk Hampir 5.000 Penerima Terdampak Karhutla
Pemerintah Aktifkan Rumah Oksigen untuk Warga Terdampak Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







