JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Utama Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Supriyanto, mengungkapkan bahwa penerapan teknologi *telerobotik* dalam tindakan operasi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi kekurangan tenaga medis, terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, salah satu tujuan utama dari penerapan teknologi ini adalah untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis. Contohnya, jika alat *telerobotik* ini di lokasi seperti Papua, dokter yang berada jauh dari pasien dapat melakukan operasi dari lokasi yang berbeda. Dia menekankan bahwa operasi yang menggunakan teknologi robot ini sudah umum dan sering dilakukan sebelumnya. Keunggulan lain dari teknologi *telerobotik* adalah presisi yang lebih tinggi dan kemampuan untuk mengurangi luka sayatan pada pasien. Supriyanto menjelaskan bahwa alat ini lebih tepat dalam menjangkau area yang kecil, menawarkan ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan tangan manusia saat melakukan tindakan bedah. Ia menambahkan bahwa tingkat kesembuhan pasien setelah melakukan operasi dengan menggunakan teknologi ini setara, atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan operasi tradisional. Hal ini disebabkan oleh volume darah yang keluar yang biasanya lebih sedikit, berkat tingkat presisi yang ditawarkan oleh teknologi robot. Di sisi lain, Ketua Kolegium Urologi Indonesia, Prof. dr. Chaidir A Mochtar, juga menyatakan pentingnya penggunaan teknologi *telerobotik* dalam penanganan berbagai penyakit urologi. Ia mencatat bahwa Indonesia tertinggal sekitar 26 tahun dalam adopsi teknologi *robotic surgery* dibandingkan dengan negara-negara tetangga, meskipun ada beberapa rumah sakit swasta yang telah mempelopori penggunaan teknologi ini selama 12 tahun terakhir. Chaidir menekankan perlunya pemerintah untuk mengakuisisi teknologi *telerobotik* ini dan menyebarluaskannya ke rumah sakit pemerintah agar Indonesia tidak ketinggalan. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya memberikan edukasi dan pelatihan tentang *telerobotik* di dalam kurikulum pendidikan kedokteran. Upaya untuk meningkatkan pelatihan dan pendidikan spesialis yang mampu melakukan operasi robotik sedang dilakukan agar dokter-dokter masa depan dapat memasuki bidang ini lebih awal. Chaidir berharap bahwa seiring dengan perkembangan teknologi, harga perangkat *robotik* dapat menurun sehingga lebih banyak rumah sakit, terutama di daerah terpencil, dapat mengaksesnya. Tehnologi *telerobotik* memungkinkan pelaksanaan operasi dari jarak jauh dengan bantuan jaringan nirkabel. Dengan mekanisme ini, dokter bedah dapat melakukan tindakan medis terhadap pasien yang berada di lokasi yang jauh, termasuk dalam kasus-kasus yang merujuk pada urologi dan bedah digestif. Metode ini diharapkan dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada, khususnya yang terkait dengan kendala geografis, sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih merata dalam menjangkau area-area yang sulit diakses. Hari ini, untuk pertama kalinya, aksi operasi *telerobotik* pada kista ginjal dilakukan oleh Dokter Spesialis Bedah sekaligus Ketua Tim *Telerobotik*, Prof. dr. Ponco Birowo, bersama tim dokter bedah dan ahli lainnya untuk pasien yang berada di RSCM Jakarta. ANTARA