**Borneonews - Jakarta**, Masalah stunting pada anak-anak di Indonesia menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang serius dan memerlukan perhatian segera. Stunting, yang merupakan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak akibat malnutrisi jangka panjang atau infeksi berulang, berdampak signifikan tidak hanya pada kesehatan fisik dan mental anak, tetapi juga pada perkembangan ekonomi individu dan negara.
Penelitian yang dilakukan oleh *World Health Organization* (WHO) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting berpotensi menghasilkan penghasilan hingga 10 persen lebih rendah sepanjang hidup dibandingkan dengan teman sebaya yang tidak mengalami kondisi tersebut. Indonesia, sebagai negara dengan perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara, menghadapi kerugian ekonomi yang signifikan dari masalah malnutrisi, termasuk stunting, obesitas, dan anemia, yang diperkirakan mencapai antara Rp250 triliun hingga Rp300 triliun setiap tahun, setara dengan 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional.
Data terbaru menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi, mencapai 21,6 persen pada tahun 2022 (SSGI 2022). Meskipun terdapat penurunan yang berarti dari angka 31 persen yang tercatat pada tahun 2018, pemerintah menargetkan untuk mengurangi angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024. Target tersebut jelas perlu dukungan pendekatan yang mendalam, terintegrasi, dan kementerian kolaboratif.
Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024 (Stranas Stunting) menawarkan kerangka kerja yang terorganisir dengan baik dalam upaya memerangi stunting. Melalui strategi ini, diharapkan program-program pencegahan stunting dapat diselaraskan secara lebih baik di berbagai tingkatan, mulai dari nasional hingga lokal, termasuk di tingkat desa. Pendekatan ini harus meliputi pengadaan dan distribusi komoditas gizi, pelatihan tenaga kesehatan masyarakat, serta menciptakan kebijakan yang mendukung upaya tersebut di tingkat lokal. Keterlibatan tokoh masyarakat juga sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang risiko stunting di kalangan warga.
Di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, telah terbukti adanya keberhasilan dalam pencegahan stunting melalui penerapan teknologi digital. Salah satunya adalah sistem aplikatif bernama *eSimpati*, yang berfungsi mengumpulkan data terkait stunting secara komprehensif. Aplikasi ini mencatat jumlah anak yang mengalami stunting, prevalensi per desa, serta mengidentifikasi penyebab stunting di lokasi tertentu. Setiap data yang diperoleh dari pusat kesehatan masyarakat dimasukkan ke dalam sistem, dan dengan bantuan kecerdasan buatan, aplikasi ini memberikan rekomendasi spesifik yang sesuai dengan kebutuhan desa masing-masing.
Keberhasilan sistem ini telah mendorong Kementerian Kesehatan untuk mengadopsi model ini secara lebih luas di tingkat nasional. Selain itu, Kabupaten Sumedang juga mengembangkan *ePharmacy*, sebuah aplikasi manajemen inventaris yang membantu puskesmas dalam pengelolaan suplemen mikronutrien. Dengan menggunakan sistem ini, 35 puskesmas di wilayah tersebut dapat menjaga ketersediaan stok suplemen secara efisien, mengurangi penundaan dalam penyediaan nutrisi penting.
Sumedang telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam pengurangan stunting, terbukti dari penghargaan yang diterima sebagai "Kabupaten Terbaik dalam Melaksanakan Delapan Aksi Konvergensi untuk Pengurangan Stunting di Jawa Barat" selama tiga tahun berturut-turut. Pendekatan multisektor dalam menangani stunting menjadi krusial. Memahami akar penyebab stunting, baik secara langsung maupun tidak langsung, harus diimbangi dengan komitmen dari berbagai sektor, seperti Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama, untuk mencapai tujuan bebas dari stunting.
Salah satu contoh kemitraan efektif adalah proyek Better Investment for Stunting Alleviation (BISA) antara pemerintah dan lembaga non-pemerintah, yang bertujuan untuk memperkuat kebijakan serta sistem manajemen intervensi di beberapa kabupaten di Indonesia. Proyek ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan, tetapi juga pendidikan, untuk memastikan bahwa program suplementasi besi dan asam folat dapat diimplementasikan di sekolah-sekolah.
Visi pemerintah Indonesia untuk menciptakan Generasi Emas pada tahun 2045 dan memanfaatkan dividen demografi di tahun 2030 hanya akan terwujud apabila masyarakat hidup dalam kondisi sehat dan bebas dari malnutrisi. Oleh karena itu, aksi nyata pada intervensi gizi bagi ibu, bayi baru lahir, anak-anak, dan remaja menjadi langkah penting untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.
ANTARA
Mencegah Stunting untuk Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Komentar (0)
Memuat komentar…







