SAMARINDA –
**Borneonews - Balikpapan**, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) di Balikpapan, Kalimantan Timur, masih terus melakukan penyemaian garam di atmosfer sekitar Ibu Kota Negara (IKN). Langkah ini dilakukan untuk mendukung kelancaran berbagai proyek yang sedang berlangsung di IKN. Kepala BMKG SAMS Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto, mengungkapkan bahwa masih banyak proyek yang perlu diselesaikan tepat waktu. Oleh karena itu, BMKG memiliki kewajiban untuk memberikan dukungan melalui modifikasi cuaca, dengan tujuan mencegah hujan di kawasan IKN. Proses yang dilaksanakan BMKG untuk mendukung proyek nasional tersebut melibatkan penyemaian garam di awan yang berada di sekitar IKN. Teknik ini tidak dilakukan secara langsung di atas IKN, tetapi bertujuan untuk mempercepat pembentukan hujan dari gumpalan awan yang ada di sekitarnya. Penyemaian garam disesuaikan dengan arah angin. Contohnya, jika terdapat gumpalan awan di atas laut Balikpapan dan angin berhembus ke arah IKN, maka pesawat akan segera terbang menuju gumpalan awan tersebut untuk menyemprotkan garam. Dengan cara ini, diharapkan hujan dapat terjadi di atas laut terlebih dahulu antes jatuh di kawasan IKN. Jika tidak dilakukan rekayasa cuaca, ada kemungkinan gumpalan awan tersebut akan bergerak langsung ke IKN, yang dapat mengakibatkan hujan deras di area tersebut. Hal ini berpotensi mengganggu kelancaran pekerjaan proyek yang sedang berlangsung di IKN, mengingat proyek tersebut harus terus berjalan agar sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Penyemaian garam berupa *NaCl* dilaksanakan setiap hari dan telah dimulai sejak bulan Juni, bagian dari program operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menghindari hujan di IKN. Kukuh menjelaskan bahwa kegiatan penyemaian garam ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Pesawat yang bertugas melakukan penyemaian berasal dari Bandara APT Pranoto di Samarinda dan Bandara SAMS Sepinggan di Balikpapan. Kolaborasi dalam penyebaran garam ini melibatkan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Smart Aviation untuk pesawat yang beroperasi dari Samarinda. Sementara itu, pesawat dari Balikpapan beroperasi dalam kerjasama antara BMKG dan TNI Angkatan Udara. Dalam pelaksanaan OMC, pesawat dari Samarinda dapat melakukan operasi antara 4 hingga 6 kali dalam sehari, tergantung pada ketebalan awan yang berisiko menyebabkan hujan. Sedangkan untuk pesawat yang beroperasi dari Balikpapan, kegiatan dilakukan sebanyak 2 hingga 3 kali sehari. Pesawat dari Samarinda memiliki kapasitas muat garam sekitar 1 ton per operasi, sementara pesawat yang digunakan dari Balikpapan dapat mengangkut antara 1,5 hingga 2 ton garam per operasi. Kukuh menambahkan bahwa OMC dari Samarinda telah berjalan rutin setiap hari dari bulan Juni hingga saat ini. Sementara itu, OMC dari Balikpapan sempat terhenti sejenak akibat kontrak yang habis, tetapi telah dilanjutkan kembali sejak kemarin. ANTARA