JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Pusat Penelitian Bencana Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan bahwa Indonesia mungkin menghadapi gempa megathrust di masa mendatang. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak ada tanggal spesifik yang dapat diprediksi untuk kejadian tersebut. Nuraini Rahma Hanifa, peneliti tersebut, menegaskan dalam sebuah acara talk show daring bahwa klaim mengenai tanggal pasti terjadinya gempa adalah tidak benar. "Gempa bisa terjadi dalam lima menit ke depan atau mungkin baru terjadi dalam waktu 100 tahun," katanya. Meskipun tidak ada cara untuk memprediksi gempa secara akurat, kejadian gempa bumi besar, seperti megathrust, adalah suatu kemungkinan di masa depan. Sejarah mencatat bahwa Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa seismik serupa sejak zaman purba. Area yang berpotensi mengalami bencana ini diperkirakan berada di wilayah barat Pulau Sumatra hingga selatan Pulau Jawa. Wilayah tersebut merupakan titik pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, yang dikenal sangat rentan terhadap aktivitas seismik. Hanifa menjelaskan bahwa gempa besar, seperti gempa megathrust, mengikuti siklus tertentu. Semakin besar gempa yang terjadi, semakin panjang pula siklus yang harus dilalui. Misalnya, gempa besar yang mengguncang Aceh pada tahun 2004 memiliki siklus hingga 600 tahun, tetapi siklus ini hanya berlaku untuk lokasi tertentu, dengan setiap lokasi memiliki siklus gempa yang berbeda. "Kita dapat menghitung pergerakan lempeng dan energi besar yang terkumpul. Namun, kita tidak bisa mengetahui kapan energi tersebut akan dilepaskan. Ini bisa terjadi dalam bentuk gempa kecil ataupun gempa besar seperti di Aceh," ungkapnya lebih lanjut. Hanifa juga menambahkan bahwa Pulau Jawa memiliki potensi pergeseran lempeng rata-rata sebesar 6 sentimeter per tahun, dengan siklus gempa diperkirakan terjadi setiap 400 hingga 600 tahun. Energi yang berasal dari pergeseran lempeng ini dapat dilepaskan secara bertahap atau sporadis. Untuk mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan lebih banyak nyawa, Hanifa mengimbau semua pihak untuk ikut berpartisipasi dalam upaya mitigasi bencana yang tepat. ANTARA