BANDA ACEH –
**Borneonews - Banda Aceh**, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Aceh telah menerima sebanyak 437 laporan terkait pelayanan publik dari 23 kabupaten dan kota di provinsi paling barat Indonesia sepanjang tahun 2024. Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Dian Rubianty, mengungkapkan bahwa banyaknya laporan tersebut mencerminkan partisipasi masyarakat dalam mendorong perbaikan kualitas pelayanan yang diberikan oleh instansi publik. "Tahun ini kami telah menerima 437 laporan mengenai pelayanan publik dari 23 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Pengaduan ini mencakup berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lain," jelas Dian Rubianty dalam pernyataannya. Dari keseluruhan laporan yang masuk, sekitar 279 di antaranya merupakan konsultasi, sementara 105 lainnya adalah aduan masyarakat. Selain itu, ada tiga laporan yang merupakan reaksi cepat dari tim Ombudsman dan 50 laporan yang diterima sebagai tembusan dari berbagai instansi pemerintah. Dian Rubianty juga menyampaikan bahwa dari 437 laporan tersebut, 67 di antaranya sudah berhasil diselesaikan. Namun, masih ada beberapa laporan yang sedang dalam proses penyelesaian dan diharapkan dapat dituntaskan pada tahun ini. "Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Penting bagi mereka untuk tidak hanya memenuhi standar pelayanan ketika tim Ombudsman melakukan pemeriksaan, tetapi harus benar-benar dilaksanakan secara konsisten," ujarnya. Di samping itu, Ombudsman RI Perwakilan Aceh juga sedang melakukan kajian terhadap pelayanan rawat inap di rumah sakit yang ada di provinsi tersebut. Banyak keluhan dari masyarakat berkaitan dengan pelayanan rawat inap, khususnya mengenai kurangnya ketersediaan kamar untuk pasien. Dian menegaskan bahwa hasil dari kajian tersebut diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pengelola rumah sakit, terutama yang dikelola oleh pemerintah daerah, untuk meningkatkan layanan rawat inap. Dengan demikian, diharapkan keluhan masyarakat dapat diminimalisir. "Banyak warga yang menyampaikan keluhan terkait ketersediaan kamar pasien untuk pelayanan rawat inap. Kajian yang tengah kami lakukan diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pelayanan rawat inap di rumah sakit-rumah sakit di Aceh," tutup Dian Rubianty. ANTARA