BOGOR –
**Borneonews - Karawang**, Bupati Karawang Aep Syaepuloh telah menerjunkan alat berat jenis *ekskavator amfibi* untuk menanggulangi masalah abrasi yang mengancam pesisir pantai Ciparage, Kecamatan Tempuran. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret dalam menghadapi tantangan abrasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dalam peninjauan penggunaan alat berat tersebut, Bupati Aep Syaepuloh menjelaskan bahwa terdapat dua pendekatan dalam menangani masalah ini, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Untuk tindakan jangka pendek, ekskavator amfibi berfungsi untuk menggali dan membersihkan area yang terdampak serta menciptakan sistem pengendalian saluran air yang lebih baik. Ia juga menegaskan bahwa teknologi canggih ini dapat dimanfaatkan tidak hanya di pantai Ciparage, tetapi juga di lokasi-lokasi lain di pesisir Karawang yang mengalami masalah serupa. Hal ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam mengatasi fenomena abrasi yang meluas. *Ekskavator amfibi* dikenal sebagai alat berat yang sangat fleksibel, mampu beroperasi di berbagai kondisi, termasuk lahan basah, sungai, dan area dangkal, bahkan dapat melaksanakan tugas di atas permukaan air. Alat ini menunjukkan potensi besar dalam menangani masalah lingkungan yang kompleks seperti pengikisan pantai. Selama kunjungan tersebut, Bupati mendengarkan langsung keluhan dari masyarakat yang tinggal di sekitar pantai Ciparage. Para warga mengungkapkan kekhawatiran mereka yang mendalam akibat tindakan ombak yang terus menerus mengikis garis pantai. Masalah ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, tetapi juga menimbulkan rasa cemas yang berkepanjangan terkait dengan keamanan tempat tinggal mereka. Menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Karawang, wilayah ini memiliki garis pantai yang cukup panjang, mencapai 84,23 kilometer, yang berbatasan dengan pesisir utara Bekasi dan Subang. Data yang diungkap pada tahun 2020 menunjukkan bahwa abrasi di pesisir utara Karawang mencapai 34,626 kilometer, dengan titik terparah berada di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya. Pandangan ini telah mendorong Pemerintah Kabupaten Karawang untuk melakukan tindakan lebih lanjut dengan merelokasi masyarakat yang terancam oleh abrasi. Tindakan tersebut didukung oleh bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Mulai dari tahun 2020, Pemkab Karawang berhasil membangun 375 unit rumah layak huni di daerah sekitar Kecamatan Cibuaya, yang terletak di area seluas 3 hektare. Bupati menyatakan bahwa penyerahan rumah-rumah tersebut kepada warga yang terdampak akan dilakukan secara bertahap. Untuk tahun 2024 hingga 2025, pemerintah menargetkan penyelesaian pembangunan sebanyak 104 unit rumah layak huni bagi korban abrasi, sebagai bagian dari upaya pemulihan dan peningkatan kehidupan masyarakat yang terpengaruh. ANTARA