DENPASAR –
**Borneonews - Denpasar**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengangkat 102 finalis Festival Handai Indonesia (FHI) 2024 sebagai duta persahabatan antara Indonesia dan berbagai negara di seluruh dunia. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, E Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa para finalis tersebut akan kembali ke negara asal mereka setelah acara ini. "Mereka akan menjadi agen atau mitra kita yang semakin menguatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan negara masing-masing," ujarnya di Kabupaten Badung, Bali, pada Jumat lalu. Acara puncak FHI 2024 yang diadakan di Kabupaten Badung, Bali ini, merupakan platform bagi para pembelajar *Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing* (BIPA) yang diikuti oleh 102 finalis dari 43 negara. Aminudin melanjutkan, seratusan finalis yang telah berkumpul di Indonesia ini adalah hasil pemilihan dari 549 peserta yang berasal dari 78 negara. Finalis terlibat dalam berbagai kompetisi, termasuk lomba berpidato, bersurat, bercerita, berpuisi, berpantun, membawakan reportase, dan bernyanyi menggunakan Bahasa Indonesia. Setelah enam hari berlomba dan mengalami kehidupan masyarakat setempat, Kemendikbudristek telah memilih tiga juara dari setiap kategori lomba, sehingga total terdapat 21 peserta terbaik yang mendapatkan penghargaan. “Kami tidak memberikan uang sebagai penghargaan, tetapi lebih kepada apresiasi dalam bentuk lain. Mereka akan menjadi mitra dalam pembelajaran BIPA di negara mereka masing-masing. Dengan adanya peningkatan permintaan untuk pembelajaran BIPA, tentu dibutuhkan individu yang mampu memenuhi tuntutan ini, sehingga mereka kini menjadi bagian dari diaspora Indonesia,” ungkap Aminudin. Kemendikbudristek mencatat bahwa minat warga asing untuk mempelajari Bahasa Indonesia semakin meningkat. Hal ini terlihat dari banyaknya negara yang mendaftar untuk FHI 2024, yaitu 78 negara, meskipun secara resmi hanya 55 negara yang menjalankan program BIPA. Data menunjukkan terdapat 183 ribu pembelajar aktif, dan kemungkinan besar masih ada pembelajar BIPA di 23 negara lainnya yang belum tercatat. Kementerian menyimpulkan bahwa lonjakan minat terhadap Bahasa Indonesia disebabkan oleh dua faktor utama: pertama, pengaruh dari diplomasi lunak yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri dan Badan Bahasa Kemendikbudristek; kedua, pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam sidang umum UNESCO. Menurut Aminudin, hal ini telah terbukti efektif, dan pengumuman tersebut menunjukkan potensi pasar yang besar serta peluang kerja sama yang luas, sehingga banyak orang tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia. ANTARA