BORNEONEWS, Tamiang Layang - Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga atau Disbudparpora Kabupaten Barito Timur untuk pertama kali mengadakan pertandingan sepak sawut pada Festival Budaya Nansarunai Jajaka, Jumat, 30 Agustus 2024.
Pertandingan yang digelar di depan lapangan tenis indoor RTH Taman Nansarunai Tamiang Layang itu riuh dengan suara penonton yang memadati pinggir lapangan.
"Pada Festival Budaya Nansarunai Jajaka baru tahun ini kita adakan dengan pertimbangan bahwa setiap tahun pertandingan sepak sawut ini selalu diadakan di tingkat provinsi pada Festival Budaya Isen Mulang," ungkap Kepala Disbudparpora Barito Timur, Herawani.
Pertandingan tahun dilaksanakan secara eksebisi antarpelajar SMA sederajat untuk melihat amino masyarakat sebelum ditandingkan secara resmi pada tahun-tahun berikutnya.
"Di luar dugaan ternyata masyarakat menyambut dengan baik, ini terbukti dengan padatnya penonton malam ini," lanjut Herawani.
--page
Sepak sawut adalah permainan tradisional suku Dayak yang mirip dengan sepak bola pada umumnya. Yang membedakan antara sepak sawut dengan sepak bola yaitu pada sepak sawut yang dijadikan bola adalah buah kelapa tua yang dilumuri minyak tanah dan dibakar.
Konon pada zaman dahulu, sepak sawut sendiri merupakan bagian dari ritual saat orang meninggal, untuk mengusir roh-roh jahat menggunakan bola api. Masyarakatnya Dayak saat itu percaya bahwa semakin tinggi api yang dihasilkan dari bola maka roh jahat juga semakin takut mendekat. Selain untuk mengusir roh jahat, sepak sawut juga menjadi penghibur untuk keluarga yang berduka.
Namun saat ini ritual tersebut hampir tidak ditemukan lagi dalam masyarakat Dayak. Umumnya sepak sawut diadakan pada festival budaya untuk melestarikan tradisi nenek moyang tersebut. (BOLE MALO/j)









