**Borneonews - Jakarta**, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memainkan peranan penting dalam penguatan ekonomi kawasan melalui kolaborasi baik secara bilateral maupun multilateral. Dalam beberapa tahun terakhir, ASEAN telah menunjukkan potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global yang signifikan.
Pada tahun 2023, Indonesia memanfaatkan momentum sebagai Ketua ASEAN untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat dan merata di antara negara-negara anggota. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa meskipun menghadapi tantangan yang cukup berat, kepemimpinan Indonesia di ASEAN tahun ini berkontribusi pada upaya menjaga stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran di kawasan.
Selama lima tahun terakhir, ASEAN telah mencapai berbagai kemajuan substansial di sektor ekonomi. Di antara pencapaian tersebut adalah disepakatinya *Digital Economy Framework Agreement* (DEFA), *ASEAN Leaders Declaration on the Developing Electric Vehicle Ecosystem*, serta inisiatif seperti Chiang Mai Initiatives dan Local Currency Transaction (LCT). Juga terdapat deklarasi komitmen untuk memperkuat ketahanan pangan dalam situasi krisis serta pelaksanaan berbagai proyek bernilai miliaran dolar AS.
Teuku Rezasyah, seorang pengamat hubungan internasional, menyebutkan bahwa kesepuluh negara anggota ASEAN secara serius telah mempersiapkan integrasi ekonomi yang terlihat dalam kebijakan ekonomi makro masing-masing negara. Ada kesadaran bersama bahwa ASEAN dapat menjadi pasar yang kokoh dan basis produksi yang kuat.
Dia menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menggerakkan perkembangan tersebut. Pertama, munculnya kesadaran kolektif akan pentingnya ASEAN sebagai pasar besar. Kedua, tekad untuk memudahkan prosedur dan praktik dalam pertukaran barang, jasa, dan tenaga kerja yang semakin menguat. Ketiga, munculnya rasa bangga dalam perkembangan ASEAN sebagai kawasan yang terhubung dan berdaya saing di panggung global.
Lebih lanjut, Rezasyah menggarisbawahi pentingnya pembangunan kapasitas kelembagaan di tingkat pemerintah dan sektor swasta untuk mengatasi kesenjangan pembangunan yang ada. ASEAN, dalam hal ini, berhasil mengumpulkan potensi dan kapasitas yang ada untuk mendukung skema kerja sama perdagangan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang mewakili sekitar 30 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) global.
RCEP telah membuka peluang bagi ASEAN untuk berkolaborasi dan bersaing secara sehat dengan negara-negara yang lebih maju, seperti Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Meskipun dilanda pandemi COVID-19, ASEAN mampu pulih lebih cepat dari yang diperkirakan, terutama di sektor manufaktur dan ekspor, dan berhasil menjadi tujuan investasi strategis terutama di tengah ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.
Negara-negara anggota ASEAN secara signifikan telah mengembangkan alat ukur yang sesuai dengan indikator kunci dari *Sustainable Development Goals* (SDGs) guna mengevaluasi pembangunan. Indonesia menempati posisi penting dalam ekosistem ekonomi ASEAN. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar, Indonesia berkomitmen penuh terhadap pengembangan RCEP dan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Lebih jauh, Indonesia berperan aktif dalam menciptakan lingkungan bisnis yang stabil dan terkoordinasi. Kerja sama antara negara anggota ASEAN terus diperkuat. Menurut Rezasyah, penting untuk melanjutkan inisiatif transformasi digital, khususnya yang berkaitan dengan UMKM, sebagai bagian yang krusial untuk pertumbuhan ekonomi, mengingat sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian ASEAN.
Implementasi sistem pembayaran terpadu menggunakan *QR Code* untuk mempermudah transaksi juga menjadi hal yang penting. Mengembangkan kerja sama sub-regional, seperti Singapore-Johor-Riau (Sijori) dan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BOMP-EAGA), merupakan langkah strategis dalam memperkuat sektor ekonomi di seluruh ASEAN.
Selain itu, peneliti dari CSIS, Andrew Mantong, mencatat bahwa kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama dua periode lebih banyak didominasi oleh agenda ekonomi. Ia menjelaskan bahwa meski Indonesia berhasil menggelar Forum G20 di tengah ketegangan antara AS dan China, perhatian yang terlalu besar pada agenda ekonomi dapat menjadikan Indonesia lebih rentan terhadap pertikaian geopolitik yang mungkin akan semakin meningkat.
Andrew menegaskan bahwa capaian Indonesia di ASEAN perlu melibatkan perubahan normatif yang lebih besar, terutama dalam konteks kepemimpinan di ASEAN pada tahun ini. Penekanan pada hasil ekonomi tetap terjaga, dengan para Menteri Ekonomi ASEAN baru-baru ini menyepakati prioritas capaian ekonomi Laos untuk masa Keketuaan ASEAN 2024, yang berfokus pada keberlanjutan capaian yang telah berjalan sebelumnya.
Dengan segala pencapaian dan tantangan yang ada, masa depan ekonomi ASEAN terlihat menjanjikan, asalkan kerjasama yang erat dapat terus dipelihara demi kesejahteraan bersama.
ANTARA
Capaian Ekonomi ASEAN, Peran Indonesia dalam Integrasi dan Pertumbuhan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun di Tengah Gejolak Pasar Modal
Bank Mandiri Beri Nilai Tambah ke Pemegang Saham Lewat Dividen-Buyback
Klinik Bersalin di Palangka Raya Bisa Terbitkan KIA hingga Perubahan KK untuk Anak Baru Lahir
Maidi Divonis 5 Tahun dalam Perkara Pemerasan Berkedok CSR
Harga Cabai Rawit Merah Rp90 Ribu per Kg, Pemkab Kobar Siapkan Bantuan Bibit
OJK Gencar Edukasi Keuangan di Kalangan Pemuda Cegah Rekening Dormant
Komentar (0)
Memuat komentar…







