SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur untuk tahun 2024 telah mengundang perhatian masyarakat luas. Provinsi Jawa Timur, yang memiliki luas 48.033 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 41,150 juta jiwa berdasarkan data 2022, akan menyelenggarakan kontestasi yang diikuti oleh tiga kandidat utama untuk jabatan "Jawa Timur-1" atau Gubernur. Kandidat pertama yang muncul dalam pemilihan ini adalah Khofifah Indar Parawansa. Saat ini, Khofifah menjabat sebagai petahana dan telah memimpin Jawa Timur selama periode 2019 hingga 2024, berkolaborasi dengan Emil Elestianto Dardak. Sebagai seorang politisi berpengalaman, Khofifah juga pernah menyandang posisi sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja serta memimpin Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, yang merupakan organisasi yang memiliki basis massa yang kuat di Jawa Timur. Pada Pilkada 2024, Khofifah akan kembali berpasangan dengan Emil Dardak. Sebelumnya, Emil adalah Bupati Trenggalek pada periode 2016-2019. Nama Khofifah sudah dikenal luas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Oleh sebab itu, partai politik yang berupaya merebut kursi di Gedung Negara Grahadi perlu mengusung kandidat yang juga memiliki daya tarik yang sama. Kandidat berikutnya, Tri Rismaharini, atau lebih dikenal dengan sebutan Risma, yang baru-baru ini mendaftarkan diri ke Komis Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur. Risma sendiri sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di provinsi yang memiliki populasi hingga 41,6 juta jiwa ini. Dia sebelumnya menjabat Wali Kota Surabaya selama dua periode, yaitu dari 2010 hingga 2015 dan 2016 hingga 2020. Saat ini, Risma juga menempati posisi Menteri Sosial dalam Kabinet Indonesia Maju, sehingga tak pelak menjadikannya lawan yang kuat bagi Khofifah, mengingat keduanya memiliki pengalaman yang cukup relevan. Di dalam kontestasi Pilkada ini, Risma akan didampingi oleh KH Zahrul Azhar Asumta, yang lebih dikenal sebagai Gus Hans. Menariknya, Gus Hans sebelumnya adalah juru bicara untuk tim kampanye Khofifah-Emil pada Pilkada 2018. Ia merupakan tokoh muda dari Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum yang terletak di Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Sama halnya dengan Emil, Gus Hans memiliki hubungan yang erat dengan Nahdlatul Ulama. Selain itu, srikandi ketiga yang ambil bagian dalam kontestasi ini adalah Luluk Nur Hamidah, seorang kader dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Nama Luluk mungkin belum terlalu familiar bagi masyarakat Jawa Timur jika dibandingkan dengan Khofifah dan Risma. Luluk adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2019-2024 dan lulusan S2 dari *Lee Kuan Yew School of Public Policy* di Singapura. Dia dikenal aktif dalam menyuarakan isu-isu kesejahteraan sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Mendampingi Luluk dalam pertarungan ini adalah Lukmanul Khakim, yang juga berasal dari PKB. Lukman sebelumnya pernah menjabat sebagai staf khusus di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, serta di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dalam Pemilihan Legislatif 2024, Luluk dan Lukman tidak mencalonkan diri ke Senayan. Mengomentari potensi masing-masing kandidat, baik Khofifah maupun Risma terlihat lebih dikenal oleh publik. Keduanya adalah perempuan tangguh dengan reputasi dan kinerja yang tidak diragukan. Sementara itu, Luluk masih harus membangun kehadirannya di tengah berbagai budaya di Jawa Timur. Namun, para elite dari partai yang mendukung Luluk dan Lukman percaya bahwa strategi mereka akan membuahkan hasil. PKB sebagai partai pengusung telah mencatatkan kemenangan dalam Pemilihan Legislatif 2024 di Jawa Timur dengan perolehan 4.517.228 suara dan 27 kursi di DPRD, mengungguli Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang memperoleh 3.735.865 suara. Anang Sujoko, seorang pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, berpendapat bahwa persaingan di antara ketiga srikandi ini akan berlangsung dengan ketat. Partai politik dalam mengusung kandidat perempuan juga ditujukan untuk menandingi Khofifah, yang dianggap memiliki posisi yang kuat. Anang juga menilai bahwa kehadiran Luluk akan menjadi gangguan bagi suara petahana dari grassroot. Untuk dapat bersaing dengan Khofifah dan Risma, program-program yang diusung oleh setiap pasangan calon harus disampaikan dengan jelas kepada publik. Penjelasan program kerja ini menjadi krusial, terutama untuk menjangkau kelompok pemilih yang disebut sebagai *swing voters* dan *undecided voters*. *Kementerian Komunikasi dan Informatika* menjelaskan bahwa *swing voters* adalah mereka yang kemungkinan besar dapat berpindah pilihannya, sedangkan *undecided voters* adalah individu yang masih bingung dan belum memilih calon yang akan ditentukan. Kedua kelompok pemilih ini harus diperhatikan sebagai suara prioritas oleh setiap kandidat pemimpin di Jawa Timur. Kontestasi di Pilkada Jawa Timur 2024 memang menarik untuk disimak, mengingat dinamisnya pemilih yang ada. Para kandidat, Khofifah, Risma, dan Luluk, perlu menghadirkan gagasan-gagasan inovatif untuk meyakinkan para pemilih. Ini bukan sekadar ajang bagi tiga srikandi untuk bersaing, tetapi juga melibatkan para wakil mereka - Emil, Gus Hans, dan Lukman - yang harus menunjukkan kapabilitas dan penguasaan konsep yang akan diajukan dalam pemilu mendatang. Penekanan pada gagasan yang ditawarkan diharapkan mampu memberikan jaminan keberlanjutan pembangunan dan perbaikan kehidupan bagi masyarakat Jawa Timur. ANTARA