BORNEONEWS, Pangkakan Bun - Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) saat ini memasuki Status Waspada kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Per Juni-Juli 2016 ini sudah terjadi kebakaran lahan dan hutan lebih dari enam titik.

Sejak operasi dilakukan, titik api yang sudah berhasil dipadamkan berada di Desa Kumpai Batu Atas (KBA), Desa Pasir Panjang, Kumai Hilir, Desa Sebuai dan Bedauan, Sekonyer serta Natai Arahan di Kecamatan Arut Selatan.

Walau pun tim terpadu yang melibatkan Kodim 1014/PBN, Polres Kobar, Manggala Agni dan BPBD Kobar masih bersikap persuasif . Namun bukan berarti tindakan keras tidak berikan kepada para pelaku pembakaran hutan dan lahan. Buktinya, hingga saat ini sudah beberapa orang yang diproses oleh kepolisian walaupun baru sebatas saksi.

"Di Kumpai Batu Atas (KBA) ada tiga orang dan baru-baru ini di Natai Arahan ada satu orang. Walau masih sebatas pemeriksaan terkait penyebab kebakaran," kata Pasi Ops Kodim 1014/PBN Kapten Inf Syahidin Bisma, di ruangannya, Rabu (13/7/2016).

Menurutnya, penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi lebih karenaaktor kesengajaan. Namun ia tidak menampik faktor alam juga turut andil dalam kebakaran yang terjadi.

Ia menegaskan, melihat kondisi saat ini pihaknya sudah tidak lagi dalam posisi memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membakar hutan. Tetapi lebih kepada memberikan tekanan berupa tindakan kepada masyarakat apabila terbukti dengan sengaja melakukan pembakaran. 

"Sosialisasi saat ini sudah dalam bentuk pressure (penindakan) kepada masyarakat. Apabila kedapatan membakar hutan dan lahan maka siap-siap untuk di proses secara hukum," tegas Syahidin.

Untuk itu saat ini Kodim 1014/PBN sudah membentuk tim posko dan posko yang ditetapkan berada di home base Manggala Agni. Untuk perlengkapan peralatan pemdaman kebakaran Kodim 1014/PBN masih menginduk ke Manggala Agni.
Kodim 1014/PBN juga telah membentuk tim khusus (timsus) di Koramil dengan melibatkan kepolisian, Manggala Agni dan pihak kecamatan.

Syahidin berharap agar pemerintah daerah lebih serius dalam mendukung penanganan kebakaran hutan. Bukan saja dukungan dalam bentuk peralatan tetapi juga dalam bentuk anggaran.

Menurutnya, jangan lagi ada pemikiran bahwa tim terpadu penanganan karhutla baru bekerja setelah ada kebakaran, tetapi justru upaya pencegahan kebakaran yang saat ini diperlukan berupa gerakan.

Ia menjelaskan, proses pemadaman yang terjadi yang melibatkan personel Kodim, Polres, Manggala Agni dan masyarakat membutuhkan anggaran, setidaknya untuk konsumsi, mengingat lokasi yang di angkau sangat jauh, seperti di Sekonyer dan Bedaun.

"Hingga saat ini belum ada support anggaran dari pemerintah daerah," ujar Syahidin. (KOKO SULISTYO/m)