**Borneonews - Jakarta**, Pembina Residensi Budaya 2024, yang juga merupakan Pelaku Budaya Topeng Losari dari Cirebon, Jawa Barat, Nur Anani M Irman, menekankan pentingnya kebudayaan dalam membangun budi pekerti dan sikap rendah hati.
Dalam sebuah wawancara seusai pagelaran hasil residensi budaya 2024 di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta, ia menyatakan, "Hal yang paling penting untuk dipelajari oleh peserta residensi budaya adalah memahami bahwa generasi muda tidak hanya dituntut untuk menguasai keterampilan, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai budi pekerti dan memiliki sikap rendah hati."
Menurut Nur Anani, Tari Topeng Losari yang sedang diajarkan kepada para peserta residensi, baik dari dalam maupun luar negeri, bukanlah sebuah tarian biasa. Ia menegaskan bahwa tarian ini merupakan manifestasi sakral yang disajikan dalam bentuk pertunjukan. "Tari ini disajikan untuk Tuhan, dengan tubuh sebagai medianya dan bumi sebagai panggung. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah pertunjukan yang sarat dengan makna sakral," katanya.
Nur Anani juga menambahkan bahwa Tari Topeng Losari dapat menjadi alat pengajaran bagi generasi muda untuk bersikap kritis serta terbuka terhadap kritik. Mereka diharapkan dapat mengambil hikmah dari aspek sakral budaya ini. "Generasi muda cenderung kritis, tetapi seringkali enggan menerima kritik atau evaluasi. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk belajar banyak, meningkatkan *unggah-ungguh* (tata krama) dan menyadari bahwa aspek sakral budaya berbeda dari apa yang biasanya mereka pelajari di bangku universitas," ujarnya.
Dia juga menyampaikan tantangan yang dihadapi dalam membimbing peserta residensi untuk mempelajari Tari Topeng Losari. "Kami hanya memiliki waktu kurang dari sebulan untuk membina mereka, tepatnya 23 hari, sebelum mereka diharuskan untuk tampil di makam Pangeran Losari, pencipta Tari Topeng Losari. Tantangannya cukup banyak, termasuk gesekan, kesalahpahaman, dan berbagai kendala lainnya, untuk menerapkan pembelajaran yang seharusnya membutuhkan waktu enam bulan, dalam kurun waktu yang sangat singkat," jelasnya.
Sementara itu, seorang peserta residensi yang juga merupakan Guru Tari di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kolombia, Jose Arturo Kadiono Melina, mengungkapkan rasa cintanya terhadap budaya Indonesia, terutama Tari Topeng Losari. "Saya memiliki keterikatan yang kuat dengan budaya Indonesia. Setelah belajar di Tanah Losari, saya berkomitmen untuk kembali dan mengajarkan pengalaman yang saya peroleh dari residensi ini," katanya.
Dalam pertunjukan residensi budaya kali ini, salah satu karya kolaborasi interdisipliner bertajuk "Tarian Agung dari Losari" ditampilkan. Karya ini menggambarkan sebuah museum hidup melalui tarian, video, dan buku, yang termasuk Tari Klana Bandopati dan Tari Gonjing.
Program residensi pemajuan kebudayaan ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini bertujuan untuk menjadi platform kolaborasi bagi seniman dari berbagai negara dalam usaha memajukan kebudayaan Indonesia.
Sebanyak 18 peserta internasional, di samping 30 peserta nasional dan 23 peserta lokal, telah berhasil menyelesaikan pelatihan mereka di tiga lokasi pelaksanaan, yakni Riau, Cirebon, dan DI Yogyakarta.
ANTARA
Kebudayaan Tingkatkan Budi Pekerti Melalui Tari Topeng Losari
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







