BORNEONEWS, Palangka Raya - Shofar atau yang lebih dikenal dengan sangkakala selalu diidentikan dengan akhir zaman, masa-masa mendekati kiamat. Hal ini menjadi kebiasaan bukan tanpa alasan karena memang menurut cerita-cerita jaman peperangan, sangkakala akan ditiup jika peperangan akan segera dimulai. Indonesia ternyata menjadi negara nomor dua terbesar dalam jumlah peniup shofar atau sangkakala ini.

"Portugal peniup shofar terbesar, Indonesia yang kedua," ungkap Roy Danel Sitepu, Pimpinan Nafiri Indonesia kepada Borneo News.

Roy adalah pelopor pengenalan shofar di Indonesia. Ia juga membentuk komunitas di Kota Cantik Palangka Raya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.

"Sebenarnya saya tidak ingin di bisnis ini, saya hanya ingin mengenalkan shofar. Tapi ujung-ujungnya saya juga harus menyediakan barangnya saat orang ingin membeli. Maka karena saya ingin membangun pasukan shofar, otomatis orang juga mencarinya dengan saya. Pernah dalam satu tahun saya menjadi pembeli terbanyak ke luar negeri karena begitu banyaknya permintaan di dalam negeri maka tidak heran kalau Indonesia menjadi negara kedua terbanyak peniup shofar ini, di Gereja-Gereja mulai ramai untuk ditiup saat puji-pujian," jelasnya.

Rata-rata ia dapat menjual 54 shofar per bulan. Bahkan pernah 273 sangkakala habis dalam satu bulan. Untuk Komunitas Nafiri Indonesia sada sekitar 400 lebih peniup sangkakala. Namun ada juga peniup sangkakala yang bernaung di bawah komunitas lain sehingga jumlahnya mencapai puluhan ribu.

"Tiap bulan juga kami berikan untuk hamba Tuhan (Pendeta) sebagai bentuk sumbangan. Visi kami adalah untuk membangkitkan pasukan Gideon di Indonesia pada zaman ini. Pasukan Gideon adalah perajurit-perajurit yang disertai Tuhan untuk berperang bagi bangsanya, pasukan yang bergerak melalui tiupan sangkakala. Kami berharap lewat komunitas ini, akan bangkit banyak peniup shofar di Indonesia untuk menjadi Pasukan Gideon. Karenanya dibentuklah komunitas bagi peniup-peniup shofar untuk berbagi pengalaman, tips, teknik dan pewahyuan tentang shofar," jelasnya.

Sementara itu Arthur Warouw, Pimpinan Wilayah Nafiri Indonesia Kalteng menyebut bahwa saat ini di Kalteng anggota komunitas ini sudah tersebar di beberapa kabupaten.

"Kita sudah buat di beberapa daerah, ada di Palangka Raya, Kapuas, Kasongan dan Lamandau. Untuk Kalteng baru di empat daerah itu dan sudah berdiri empat tahun," jelasnya. 

Kegiatan yang dilakukan selain meniup shofar dari gereja ke gereja, juga berdoa bagi bangsa terutama untuk kesejahteraan khususnya Kalteng. Komunitas ini juga kerap terlibat dalam sejumlah event yang digelar pemerintah seperti Pawai Paskah yang digelar baru-baru ini. (TESTI PRISCILLA/m)