JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) di dalam negeri. Langkah-langkah tersebut mencakup pengaktifan kembali sumur-sumur yang tidak beroperasi atau *idle*, penerapan intervensi teknologi, serta penyediaan insentif bagi sektor hulu migas. Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM, Ariana Soemanto, menjelaskan bahwa saat ini, kontribusi terbesar terhadap *lifting* dan produksi minyak nasional berasal dari Pertamina Hulu Rokan yang mencapai 157 ribu barel *per day*. Disusul oleh ExxonMobil Cepu dengan kontribusi sekitar 143 ribu barel *per day*. Jika dijumlahkan, produksi minyak dari Pertamina grup mampu menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi, tanpa memperhitungkan aset non-operating. Untuk merealisasikan program reaktivasi sumur dan lapangan yang saat ini menganggur, pihak Kementerian ESDM bekerja sama dengan SKK Migas dan Pertamina. Mereka sedang melakukan diskusi teknis dan membuka peluang untuk berkolaborasi dengan sektor swasta agar target produksi yang ditetapkan untuk tahun 2024 dapat tercapai. Selain itu, Kementerian ESDM sedang melakukan intervensi teknologi dengan menggandeng perusahaan migas China, Sinopec, untuk menerapkan teknologi peningkatan produksi di lima lapangan Pertamina. Ariana menambahkan bahwa pada minggu lalu, tim teknis dari ESDM, SKK Migas, dan Pertamina telah melakukan evaluasi teknis terhadap penerapan teknologi di lapangan di China. Selanjutnya, mereka juga akan mengundang tim teknis Sinopec untuk melakukan penjajakan teknologi di lokasi-lokasi di Indonesia. Kementerian ESDM juga telah mempersiapkan insentif untuk sektor hulu migas guna mempermudah perekonomian kontraktor agar dapat beroperasi dengan lebih efisien, sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 199/2021. Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengemukakan bahwa pihaknya telah menyusun tiga strategi kunci untuk menurunkan ketergantungan terhadap impor minyak dan gas nasional, mengingat masih banyak potensi sumber daya mineral yang ada di Indonesia. Tiga strategi tersebut meliputi optimalisasi produksi minyak dengan memanfaatkan teknologi, reaktivasi sumur-sumur *idle*, dan eksplorasi migas, terutama di wilayah Indonesia Timur. ANTARA