DENPASAR –
**Borneonews - Badung, Bali**, Forum Parlemen Indonesia-Afrika (IAPF) 2024 mengedepankan konsep wirausaha sosial yang bertujuan untuk mengangkat peran sentral perempuan dalam pengembangan ekonomi, mulai dari level keluarga hingga kontribusi kepada negara secara keseluruhan. Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam wawancaranya di acara IAPF 2024 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, menyatakan pentingnya kerja sama untuk meningkatkan partisipasi perempuan, terutama di sektor ekonomi dan politik. Puan menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkontribusi lebih optimal dalam masyarakat jika diberikan kesempatan yang memadai. Ia juga menggarisbawahi bahwa hubungan antara Indonesia dan Afrika bukan hanya berkaitan dengan ikatan sejarah, tetapi juga meliputi eksplorasi berbagai peluang kerja sama di berbagai sektor ke depan. Oleh karena itu, Puan mengajak kedua belah pihak untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan, di mana penghormatan terhadap keberagaman dan prinsip kesetaraan menjadi fondasi utama. Dalam sesi khusus IAPF 2024, salah satu wirausaha sosial yang berkesempatan menyampaikan "suara perempuan" adalah Pendiri Du’anyam, Hanna Keraf. Hanna menekankan bahwa perempuan harus diberi kesempatan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan hidupnya dan mampu berkontribusi dalam meningkatkan taraf ekonomi. Hanna berharap bahwa inisiatif pemberdayaan perempuan ini dapat menginspirasi para pemangku kebijakan di negara-negara Afrika. Dia menjelaskan bahwa Indonesia dan Afrika memiliki nilai-nilai budaya yang serupa, termasuk sistem patriarki yang masih berperan dalam struktur sosial saat ini. Oleh karena itu, peran perempuan dalam ekonomi harus ditekankan dengan lebih kuat, dan dia menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan budaya yang telah ada secara turun temurun untuk bisa dimonetisasi. Dalam konteks lokal, istilah *Du’a* dalam bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) berarti ibu, sedangkan *anyaman* merujuk pada aktivitas menganyam yang umumnya dilakukan oleh perempuan atau ibu-ibu. Sejak berdirinya pada tahun 2014, Du’anyam telah melatih sekitar 1.600 perempuan di 54 desa yang tersebar di NTT, Kalimantan Selatan, serta Papua, yang sekaligus memproduksi produk kerajinan tangan. Hanna menekankan bahwa melalui konsep wirausaha sosial ini, lebih banyak perempuan dapat dilibatkan dalam proses pembangunan. Ia menjelaskan bahwa karya-karya para ibu dan perempuan kini sudah dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di pasar internasional. ANTARA