**Borneonews - Jakarta**, Koalisi Act For Farmed Animals (AFFA), yang merupakan inisiatif kolaboratif dari Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal di Indonesia, merayakan Hari Kampanye Mengakhiri Spesiesisme Sedunia. Dalam peringatan ini, AFFA mengajak masyarakat untuk merenungkan hubungan antara manusia dan hewan serta dampaknya terhadap masa depan.
Selama berabad-abad, hewan sering diperlakukan sebagai komoditas tanpa nilai lebih. Banyak asumsi yang menganggap hewan memiliki kapasitas yang rendah, tidak mampu berpikir, berbicara, atau bahkan merasakan emosi. Pandangan semacam ini telah membenarkan perilaku eksploitasi yang intensif terhadap hewan, baik untuk kebutuhan pangan, kosmetik, hiburan, transportasi, obat-obatan, dan lain-lain.
Namun, penelitian ilmiah yang terbaru menunjukkan bahwa banyak spesies hewan memiliki kesamaan sifat dengan manusia, antara lain dalam hal struktur otak yang terkait dengan emosi dan kemampuan untuk merasakan rasa sakit. Direktur Pengelola Act for Farmed Animals, Among Prakosa, mengungkapkan bahwa semakin banyak spesies hewan diakui sebagai makhluk dengan kemampuan berpikir, memiliki ingatan, serta kapasitas untuk merasakan sakit dan emosi.
Selain itu, Among juga menunjukkan bahwa manusia pada level yang sama mengalami kemajuan dalam mempelajari bahasa, ikatan sosial, serta keinginan mendasar untuk hidup tanpa rasa sakit dan penderitaan. Pada tahun 2012, publikasi *The Cambridge Declaration of Consciousness* menjadi momen penting dengan mengakui adanya basis neurobiologis yang mendasari *kesadaran* pada berbagai spesies hewan, termasuk semua mamalia, burung, serta beberapa spesies lainnya.
Selanjutnya, antara tahun 2021 dan 2022, pemerintah Inggris memasukkan semua vertebrata dan banyak invertebrata seperti lobster, gurita, dan kepiting ke dalam daftar legal dalam Animal Welfare (Sentience) Bill. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pembuatan regulasi yang mempertimbangkan kapasitas hewan dalam merasakan sakit. Di tahun 2024, *Deklarasi New York tentang Kesadaran Hewan* juga mulai menyoroti pindahnya perhatian kepada spesies serangga dan moluska, seperti siput dan tiram, dengan menyatakan bahwa ada kemungkinan mereka juga bisa merasakan sakit, sehingga harus diperhatikan saat membuat keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Among menegaskan bahwa pernyataan tersebut menunjukkan adanya bias dan kesalahan dalam argumen yang digunakan untuk membenarkan eksploitasi hewan. Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih berempati kepada hewan yang memiliki hubungan lebih dekat, seperti mamalia, dibandingkan dengan spesies lain seperti burung dan ikan. Namun, ia menegaskan bahwa semua spesies harus mendapatkan pertimbangan moral yang setara, tidak peduli dekat atau jauh hubungan mereka dengan manusia. Perubahan dalam masyarakat sangat penting untuk menghormati kehidupan semua jenis hewan.
Seiring dengan meningkatnya pengakuan terhadap hak-hak hewan, banyak organisasi dan individu berjuang untuk mengubah praktik eksploitatif di industri hewan. Tujuan mereka adalah menghapus praktik-praktik kejam dan mempromosikan alternatif yang tidak melibatkan penyiksaan hewan demi kepentingan manusia. Di garis depan upaya ini, Koalisi Act For Farmed Animals (AFFA) menekankan pentingnya masalah peternakan sebagai isu kritis yang harus diselesaikan.
Among menjelaskan bahwa perjuangan melawan spesiesisme ini difokuskan pada advokasi terhadap spesies yang paling terabaikan. Lebih dari 80 miliar hewan darat disembelih setiap tahunnya untuk daging, dan jumlah spesies laut serta ikan yang dieksploitasi juga sangat mengkhawatirkan. Sebagian besar hewan-hewan ini dibesarkan di dalam sistem yang disebut *peternakan pabrik*, di mana keuntungan menjadi prioritas utama daripada kesejahteraan hewan.
Menghadapi realitas ini, Among menegaskan bahwa banyak hewan terpaksa hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi, termasuk penempatan dalam kurungan sempit yang menghalangi perilaku alami mereka serta menjalani prosedur peternakan yang menyakitkan dan menderita penyakit. Meskipun industri peternakan, khususnya *peternakan pabrik*, terus berkembang, organisasi seperti Act for Farmed Animals melihat tanda-tanda perubahan positif dalam upaya kesejahteraan hewan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Among menambahkan bahwa mereka telah berhasil mendapatkan komitmen dari ribuan perusahaan di seluruh dunia untuk menghapus praktik-praktik buruk seperti penggunaan kandang yang sempit. Mereka juga mengajak sektor keuangan untuk tidak berinvestasi dalam *peternakan pabrik* dan mulai mendukung penyediaan makanan berbasis nabati secara luas.
Setiap tahunnya, hampir 60 juta hewan merasa manfaat dari kampanye ini. Hal ini menjadi indikator bahwa perubahan positif bisa terjadi dan masa depan yang lebih baik untuk semua spesies bisa terwujud.
ANTARA
Refleksi Hubungan Manusia dan Hewan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Komentar (0)
Memuat komentar…







