JAKARTA –
**Borneonews - Badung, Bali**, Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa potensi yang dimiliki oleh Republik Indonesia dan negara-negara di Afrika dapat saling melengkapi. Hal ini membuka berbagai peluang kerja sama yang dapat diperluas antara kedua belah pihak. Rosan menjelaskan bahwa kekayaan sumber daya di Afrika, seperti litium yang dimiliki Zimbabwe, sangat krusial. Indonesia, yang tidak memiliki litium, dapat memanfaatkan potensi tersebut sebagai bagian penting dari ekosistem *electric vehicle* (kendaraan listrik), terutama dalam produksi baterai kendaraan. Penegasan ini disampaikan oleh Menteri Rosan setelah memberikan sambutan dalam sesi Forum Parlemen Indonesia-Afrika (IAPF) yang diadakan di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Selanjutnya, ia menyoroti Maroko sebagai produsen fosfat terbesar ketiga di dunia yang memainkan peranan penting dalam rantai pasokan global, terutama sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Keberadaan industri kesehatan dan spa terkemuka Indonesia yang telah membuka cabang di Afrika menjadi bukti bahwa kedua negara memiliki potensi untuk saling melengkapi dan berkolaborasi dalam berbagai bidang. Rosan menekankan pentingnya merumuskan kebijakan yang tepat agar kolaborasi ini dapat berkembang. Ia juga menyebutkan perlunya melibatkan pengusaha, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam kerja sama ini. Melalui IAPF, Menteri Rosan berharap nilai perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara Afrika akan meningkat, terutama karena selama ini kerja sama lebih banyak terfokus pada sektor energi besar. Ia mengungkapkan bahwa kolaborasi ini harus dipercepat untuk mengoptimalkan potensi antara Afrika dan Indonesia, mengingat saat ini perdagangan *south-south* telah melampaui *north-north* untuk pertama kalinya. Menurut data dari Kementerian Investasi, Indonesia telah menginvestasikan sekitar 2,09 miliar dolar AS (setara dengan Rp32,46 triliun) di beberapa negara utama Afrika. Sementara itu, investasi dari Afrika ke Indonesia mencapai 1,73 miliar dolar AS (Rp26,9 triliun). Pada tahun 2023, perdagangan bilateral antara kedua belah pihak menunjukkan perkembangan yang pesat, di mana Indonesia mengekspor barang olahan dan mengimpor bahan baku penting dari Afrika. Rosan juga menambahkan bahwa Indonesia tengah memperjuangkan perjanjian investasi bilateral dengan Afrika untuk menciptakan iklim investasi yang lebih stabil. Saat ini, terdapat tiga perjanjian investasi bilateral yang sedang berada dalam tahap pra-negosiasi, empat perjanjian yang sedang dalam proses ratifikasi, serta dua perjanjian lainnya yang sudah aktif. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan di masa mendatang. ANTARA