JAKARTA –
**Borneonews - Istambul**, Bandara internasional utama Israel berencana menghentikan seluruh aktivitas penerbangan pada hari Senin sebagai respons terhadap aksi mogok umum yang ditujukan untuk mendesak pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan kelompok Palestina. Penutupan Bandara Ben Gurion akan mulai diterapkan pada pukul 8 pagi waktu setempat (0500 GMT), seperti yang disampaikan oleh perwakilan dari serikat pekerja terbesar di Israel, yaitu Histadrut. Namun, hingga saat ini, pihak serikat pekerja belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai kapan operasional bandara akan dilanjutkan. Arnin Bar-David, yang menjabat sebagai Kepala Federasi Pekerja Histadrut, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam aksi mogok umum tersebut. Tindakan ini diambil dengan tujuan menekan pemerintah Israel agar segera memfasilitasi suatu kesepakatan pertukaran tahanan dengan pihak Palestina. Seruan untuk mogok ini muncul setelah tentara Israel mengumumkan bahwa mereka telah menemukan jenazah enam sandera yang sebelumnya diambil dari lokasi di Jalur Gaza selatan. Media terkemuka Israel, *Haaretz*, mengutip beberapa sumber yang menyatakan bahwa tiga dari enam sandera tersebut seharusnya seharusnya mendapatkan kebebasan dalam tahap awal dari perjanjian pertukaran tahanan yang saat ini sedang dalam proses negosiasi. Sumber yang sama mengungkapkan harapan bahwa kedua pihak dapat mengembalikan mereka dalam keadaan selamat. Di sisi lain, Hamas menyatakan bahwa semua sandera tersebut tewas sebagai akibat dari serangan udara Israel yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Pemerintah Israel juga memperkirakan bahwa masih ada lebih dari 100 sandera yang ditangkap oleh Hamas di wilayah Gaza, dengan sejumlah di antara mereka diyakini sudah meninggal. Selama berbulan-bulan, terdapat upaya dari Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir untuk menjembatani kesepakatan antara Israel dan Hamas. Tujuannya adalah untuk menjamin pertukaran tahanan, membahas gencatan senjata, serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza. Sayangnya, berbagai upaya tersebut menemui kendala karena Netanyahu menolak untuk memenuhi syarat yang diajukan Hamas dalam konteks penghentian konflik bersenjata. Meskipun terdapat seruan dari Dewan Keamanan PBB untuk segera mengakhiri pertikaian, Israel tetap melanjutkan serangan militernya secara agresif terhadap Jalur Gaza setelah Hamas melancarkan serangan pada 7 Oktober lalu. Dampak dari konflik ini sangat mengkhawatirkan, dengan lebih dari 40.700 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 94.100 orang lainnya mengalami luka-luka berdasarkan informasi dari otoritas kesehatan setempat. Sementara itu, Israel menghadapi berbagai tuduhan mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan genosida, dan di hadapkan pada Pengadilan Internasional yang meminta penghentian semua aktivitas militer khususnya di kota Rafah, di mana lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum wilayah tersebut terinvasi pada tanggal 6 Mei. ANTARA