AMBON –
**Borneonews - Ambon**, Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Maluku, Kardiono, menegaskan bahwa penguasaan teknologi informasi dan kemampuan berbahasa asing menjadi kunci bagi para petani penghasil komoditas seperti pala, cengkih, dan kelapa di Maluku untuk memperluas akses pasar, bahkan hingga ke mancanegara. Menurut Kardiono, di era sekarang ini, metode pemasaran tradisional tidak lagi mencukupi. Melalui pemanfaatan *digital*, petani dapat belajar untuk meningkatkan kualitas produk mereka. "Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memastikan bahwa produk tersebut memenuhi standar yang diinginkan oleh pembeli internasional," ujarnya saat memberikan keterangan di Ambon. Kardiono juga menyuarakan pentingnya kemampuan berbahasa asing, terutama bagi generasi muda di kalangan petani. Hal ini berguna untuk menguasai rantai distribusi yang cukup panjang sehingga dapat bersaing dalam pasar global. Dengan mengacu pada pengalamannya saat bertugas di Provinsi Banten beberapa tahun lalu, Kardiono mencontohkan seorang pemuda lulusan SMA yang berhasil mengekspor gula semut ke berbagai negara, termasuk China, Eropa, dan Timur Tengah. Keberhasilan tersebut dicapai berkat penguasaan *IT* yang baik dan kemampuan berbahasa, terutama bahasa Mandarin dan Inggris. Dalam kesempatan tersebut, Kardiono menjelaskan, "Saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi dan memfasilitasi mereka, mulai dari persiapan produk sesuai standar, pelabelan, hingga pengemasan gula semut agar bisa masuk ke pasar modern dan memenuhi kebutuhan ekspor." Ia menambahkan, "Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memadukan kemampuan berbahasa asing dengan penguasaan teknologi informasi saat ini." Lebih lanjut, Kardiono mengungkapkan potensi besar yang dimiliki wilayah perkebunan di Maluku. Daerah seperti Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, serta Pulau Ambon memiliki banyak kemungkinan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Akses transportasi yang sudah ada, baik darat maupun laut, mendukung balai untuk melakukan pendampingan bagi produk dan menargetkan pembeli. Kardiono menekankan bahwa kolaborasi antara petugas penyuluh lapangan, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani adalah suatu keharusan. "Kita harus menciptakan satu kesatuan dan memaksimalkan interaksi secara digital," ujarnya. ANTARA