JAKARTA –
**Borneonews - Badung, Bali**, Indonesia menggarisbawahi pentingnya melakukan perubahan transformatif untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau *Sustainable Development Goals* (SDGs). Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dalam sambutan pembukanya pada acara *High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships* (HLF MSP) 2024 yang berlangsung di Badung, Bali, pada hari Senin. “Melalui HLF MSP 2024, kami menekankan betapa pentingnya perubahan yang bersifat transformatif,” ujar Suharso. Di dalam penjelasannya, ia mengungkapkan bahwa saat ini hanya sekitar 15 persen dari target-target yang ditetapkan dalam SDGs yang berada di jalur yang sesuai, sedangkan banyak lainnya mengalami perkembangan yang terhambat. Dampak dari kondisi ini membuat lebih dari setengah populasi dunia berisiko untuk terpinggirkan dan tidak dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan. Situasi ini semakin memburuk dengan adanya berbagai tantangan global yang kini dihadapi, seperti ketegangan yang muncul dari konflik geopolitik, ketidaksetaraan, kemiskinan ekstrem, perubahan iklim, pandemi yang melanda seluruh dunia, krisis finansial, serta gangguan pada rantai pasokan global. Lebih lanjut, Suharso menjelaskan bagaimana fragmentasi ekonomi, khususnya dalam konteks perdagangan, dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ekonomi dunia. Ia merujuk pada hasil riset yang dilakukan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang memperlihatkan bahwa pembentukan blok perdagangan yang terpisah dapat mengakibatkan penurunan produk domestik bruto (PDB) global hingga mencapai angka 5 persen. Dalam hal ini, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memberikan proyeksi bahwa kerugian yang diakibatkan oleh fragmentasi tersebut dapat berpotensi berkisar antara 0,2 persen hingga 7 persen dari total PDB secara global. Menyikapi berbagai tantangan yang ada, Indonesia kembali menekankan perlunya upaya transformatif dan penguatan kerja sama internasional yang lebih efektif dan kritis dibanding sebelumnya. Suharso menegaskan pentingnya kerja sama antara negara-negara di belahan selatan dan utara untuk menjadi lebih inklusif dan didukung oleh kemitraan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dalam diskusi yang berlangsung di HLF MSP 2024, panelis akan membahas bagaimana solusi dari kemitraan yang melibatkan berbagai pihak dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan negara-negara selatan dengan utara, serta antar negara selatan itu sendiri, dengan harapan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh negara-negara tersebut. Dalam forum tersebut, perwakilan dari berbagai elemen termasuk pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, bank pembangunan multilateral, serta filantropi, akan melakukan pembahasan mendalam dengan tiga sub-tema utama yang mendesak. Ketiga sub-tema tersebut mencakup peningkatan kemitraan yang melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat kerja sama, promosi kesejahteraan dan keberlanjutan melalui ekonomi yang berkelanjutan, serta kemajuan pembangunan yang didukung oleh pembiayaan inovatif. ANTARA