PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Masnawati (65), seorang warga asli Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), berhasil mengembangkan bisnis catering bernama 'Catering Marunting' yang telah berdiri selama 35 tahun. Dengan keahliannya memasak beragam menu nusantara, bisnis ini kini mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah per harinya.

"Jualan sayur ini omzetnya lebih dari tiga juta perhari, bahkan bisa tembus 6 - 8 juta rupiah. Kalau saat Ramadhan bisa mencapai Rp 10 juta rupiah. Paling sedikit Rp 8 jutaan. Kalau catering, itu tergantung jumlah pesanannya," ujar Masnawati saat ditemui di kiosnya di Jalan Malijo, No 19, Kelurahan Madurejo, Pangkalan Bun.

Kios yang tampak sederhana ini ternyata sudah melayani pesanan hingga ke luar daerah, termasuk acara di Kota Sampit dan Kota Palangka Raya. Kesuksesan ini tidak datang begitu saja, Masnawati memulai usahanya dengan berjualan sayur masak dan membuka warung makan di Kelurahan Mendawai sebelum akhirnya pindah dan membuka kios di Kelurahan Madurejo.

"Catering ini sudah berdiri sekitar 35 tahun. Dulu di Kampung Mendawai dan jualan kecil-kecilan melayani catering rumah tangga. Kalau di Madurejo ini sekarang catering besar-besaran, seperti catering acara pengantin, kegiatan kedinasan, peresmian, dan acara lainnya," tambahnya.

Bisnis catering yang dikelolanya pernah mendapat orderan besar sebanyak 12 ribu porsi dengan 10 menu lebih. Untuk menangani pesanan besar seperti itu, ia mempekerjakan sekitar 30 karyawan. Nama 'Marunting' dipilih sebagai nama usahanya karena Masnawati merasa bangga dengan simbol daerah Kobar, 'Marunting Batu Aji', yang membuat bisnisnya memiliki ciri khas daerah.

--page

"Kemudian untuk menu-menu yang disediakan ini beragam, khas sini ada, khas Jawa juga ada. Kita ganti-ganti menu. Kita enggak mau monoton itu-itu saja, supaya tidak bosan," katanya.

Menurutnya, 'Catering Marunting' adalah catering pertama di Pangkalan Bun yang berbentuk badan usaha, sehingga banyak perusahaan atau instansi yang menggunakan jasanya karena berkaitan dengan pelaporan pajak.

"Untuk pemesanan catering seperti pernikahan minimal 1 bulan, kalau nasi kotak bisa dua hari sebelumnya. Hal tersebut dilakukan supaya pada saat kegiatan dapat berjalan lancar dan menu yang dibuat dapat tersajikan dengan baik," jelas Masnawati.

Ia juga menuturkan bahwa untuk acara besar seperti pernikahan, mereka tidak bisa menerima dua acara dalam satu waktu. Fokus melayani satu pelanggan adalah kunci agar pelanggan puas dan tidak kecewa.

Kepandaiannya dalam memasak diperoleh saat tinggal di Jember, Jawa Timur, mengikuti suaminya. Saat itu, ia belajar memasak dari mertuanya yang berjualan sayur masak dan melayani catering untuk mahasiswa.

"Belanja bahannya pagi hari dan langsung dimasak. Banyak petani-petani datang langsung jual ke sini. Atau kita langsung pesan. Jadi semua masakan dari kami, kami tidak ada menerima masakan dari luar atau kerjasama dengan warung makan lainnya," ungkapnya.

Desi (31), anak dari Masnawati, menambahkan bahwa kelebihan 'Catering Marunting' dibanding catering lain adalah pelayanan lengkap dari mulai pengangkatan piring, cuci piring hingga penyajian, semuanya dilakukan oleh tim mereka.

--page

"Jadi pemilik acara tinggal duduk manis saja," ujar Desi.

Mereka juga bekerja sama dengan Event Organizer (EO), pemilik tenda, dan penyedia keperluan acara besar lainnya untuk menjaga kualitas dan nama baik cateringnya.

"Kami juga menerima kritik dan saran dari konsumen. Jika ada yang komplain langsung diperbaiki," katanya.

Untuk menyesuaikan dengan tren kuliner yang terus berubah, 'Catering Marunting' terus berinovasi. Bahkan dari tahun ke tahun, cara penyajian juga terus diperbarui.

"Kotakannya aja atau mikanya dari tahun ke tahun selalu berubah. Biasanya yang sebelumnya nasinya tidak dibungkus sekarang dibungkus dan lainnya," tambahnya.

Harga yang ditawarkan juga cukup bervariasi, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu untuk nasi kotak lengkap dengan lauk, sayur, dan buah. Untuk acara pernikahan, satu porsi dihargai mulai dari Rp 40 ribu dengan menu sesuai pesanan.

"Kalau tamu besar seperti acara di Pak H. Abdul Rasyid AS itu, bisa per porsinya sampai Rp 125 ribu. Bahkan kalau tamunya itu Panglima bisa Rp 150 ribu per porsinya," imbuh Desi.

Pengalaman unik selama menjalankan bisnis catering ini juga pernah mereka alami, seperti adanya pesanan fiktif. "Sering itu dapat pesanan fiktif. Kita sudah pernah buat nasi bok dan siap antar ke instansi langganan, ternyata tidak ada acara di instansi tersebut. Akhirnya kita antarkan ke panti asuhan. Sekarang kalau ada yang pesan harus bayar DP dulu, kemudian konfirmasi ke instansi terkait," ungkap Masnawati.

--page

Untuk promosi, 'Catering Marunting' memanfaatkan platform media sosial. Banyak pelanggan dari luar daerah yang mengetahui jasa mereka melalui Facebook atau Google.

"Orang jauh-jauh dari Jakarta itu tahu lewat Facebook atau Google. Mereka pesan nasi tumpeng untuk kerabatnya di sini," imbuhnya.

Ke depan, Masnawati berharap agar usaha cateringnya terus berkembang dan tetap dapat memuaskan pelanggan. (DANANG/Y)