BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mengahadapi tahun ajaran baru pendidikan sekolah mulai TK hingga SMA, biasanya para pengusaha rumahan seperti penjahit pakaian ramai menerima pesanan. Tapi tidak di Pangkalan Bun, justru puluhan penjahit pakaian seragam sekolah sepi permintaan. 

"Tahun ini sepi. Nggak tahu kenapa. Biasanya tahun kemarin sehari yang pesan dijahitkan baju untuk anaknya sampai 10 orang sehari. Ini lima pun nggak sampai," kata Marjuk, pemilik penjahit dan bordir Raya di sekitaran pasar Indra Kencana Pangkalan Bun, Kamis (14/7/2016).

Akibatnya, ia harus rela memulangkan dua anak buahnya karena tak mampu mencukupi gaji tiap bulan. "Anak buah saya tinggal satu orang aja, yang dua saya berhentikan dulu soalnya orderan sepi," jelasnya.

Ia memperkirakan biaya pembuatan seragam sekolah di Pulau jawa lebih murah dan kualitasnya lebih bagus. Pihak sekolah yang biasa memborong jahitan pakaian seragam beralih permintaan ke Pulau Jawa.

"Biasanya saya ongkos jahitnya Rp180 ribu, kalau di Pulau Jawa itu konveksi lebih murah harganya," jelasnya.

Senada, Mariani, karyawan penjahit dan penyedia bahan kain Ilham di kelurahan Mendawai menyebutkan, dari 10 orang pegawainya, kini yang bekerja tinggal setengahnya saja. Permintaan untuk menjahitkan seragam sekolah dari orang tua murid sepi.

"Rata-rata 20 permintaan menjahit setiap hari kalau tahun lalu, itu ramai. Sekarang nggak sampai," kata dia.

Penjahit Ilham hanya melayani jasa pembuatan seragam sekolah khusus SMA dengan tarif Rp300.000-Rp350.000 satu stel seragam.

"Harga itu terima beres. Konsumen tidak perlu membeli bahan kainnya lagi," kata dia.

Ia berharap, tahun ajaran baru berikutnya, pemerintah bisa membantu menjaga ketersediaan konsumen demi melancarkan para pengusaha UMKM. (CECEP HERDI/m)