**Borneonews - Badung**, Indonesia mengeksplorasi dan membagikan konsep *blue economy* serta *circular economy* dalam ajang High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) 2024. Forum ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Vivi Yulaswati, menjelaskan bahwa HLF MSP adalah sebuah platform yang memungkinkan negara-negara untuk saling berkolaborasi. Indonesia, sebagai salah satu peserta, turut memperkenalkan kerangka kerja *blue economy* dan rencana *circular economy* yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Konsep *blue economy* Indonesia dituangkan dalam Blue Economy Roadmap yang berambisi menjadikan sektor maritim sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam rencana tersebut, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kontribusi ekonomi maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 7,6 persen menjadi 15 persen pada tahun 2045.
Selain itu, *blue economy* diharapkan dapat menciptakan sekitar 12 juta lapangan kerja baru dan menciptakan kawasan perlindungan laut sebesar 10 persen pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan tekad Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan lautnya secara berkelanjutan.
Sementara itu, rencana *circular economy* dituangkan dalam Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045. Implementasi *circular economy* ini akan difokuskan pada lima sektor prioritas, meliputi pangan, elektronik, kemasan plastik, konstruksi, dan tekstil. Diharapkan, langkah ini dapat memberikan manfaat besar bagi perekonomian.
Dalam proyeksi, penerapan *circular economy* dapat meningkatkan PDB hingga Rp638 triliun pada tahun 2030 dan menciptakan 4,4 juta lapangan kerja hijau, di mana 75 persen dari tenaga kerja itu adalah perempuan. Selain itu, strategi ini juga ditargetkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 126 juta ton karbondioksida.
HLF MSP 2024 juga menjadi platform strategis untuk membahas kolaborasi transformatif guna menghadapi tantangan global, khususnya dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau *Sustainable Development Goals* (SDGs). Saat ini, pencapaian TPB/SDGs di tingkat global menghadapi banyak kendala. Sekretaris Jenderal PBB menyatakan bahwa hanya 15 persen dari target yang sesuai jalur, sementara sebagian besar lainnya mengalami penurunan.
Vivi menekankan pentingnya transformasi dalam pembangunan yang berorientasi pada TPB/SDGs. Indonesia telah menyiapkan rencana pembangunan jangka panjang hingga tahun 2045 dalam menghadapi tantangan ini. Dengan demikian, HLF MSP 2024 menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan negara lain dalam mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan laporan Sustainable Development Report 2023, Indonesia berhasil naik peringkat ke-75 dari sebelumnya 102 dalam empat tahun lalu, menunjukkan kemajuan yang signifikan. Oleh karena itu, forum ini sangat penting untuk memperkuat kolaborasi antar pihak dalam mewujudkan solusi konkret guna mencapai target TPB/SDGs.
Vivi menambahkan bahwa dalam HLF MSP 2024, peserta dapat mendengarkan dan belajar dari solusi serta praktik terbaik dari setiap negara yang hadir untuk diimplementasikan secara lokal.
ANTARA
Indonesia Perkenalkan Konsep Ekonomi Biru dan Sirkuler di HLF MSP 2024
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Komentar (0)
Memuat komentar…







