JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Scenaider Clasein Hasudungan Siahaan, mengungkapkan bahwa Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 ditujukan untuk mengoptimalkan potensi setiap daerah di Indonesia. Strategi ini mencakup pertumbuhan yang diperkirakan untuk setiap kawasan, dengan kawasan barat diprediksi mencapai angka pertumbuhan antara 5,0 hingga 5,3 persen, sedangkan kawasan timur diproyeksikan tumbuh antara 6,4 sampai 6,9 persen. Dalam konteks koridor ekonomi Sumatera, fokus utamanya adalah pengembangan industri yang berbasis sumber daya alam (SDA) serta penciptaan hub ekonomi biru di wilayah barat Indonesia. Beberapa langkah strategis yang akan dilaksanakan meliputi hilirisasi komoditas primer unggulan seperti bauksit, kakao, kelapa, dan karet, serta pengembangan industri perikanan. Selain itu, penguatan industri logam dasar dan industri kimia dasar juga merupakan agenda utama. Rencana ini mencakup pembangunan Proyek Strategis Nasional, seperti Jalan Tol Trans Sumatra, serta pengembangan bandara hub dan *aerocity* Kualanamu. Sementara itu, untuk koridor ekonomi Jawa, pemerintah memfokuskan perhatian pada industri yang berbasis inovasi, riset, dan teknologi. Berbagai intervensi strategis yang dirancang mencakup pembangunan infrastruktur konektivitas, seperti Jalan Pansela Jawa Timur dan Pelabuhan Patimban. Selain itu, hilirisasi industri komoditas seperti tembaga, bauksit, sawit, kelapa, karet, dan rumput laut juga menjadi prioritas, ditambah dengan pengembangan industri alat angkut, yaitu *electric vehicle* (EV), industri kedirgantaraan, serta industri elektronik dan digital. Adapun koridor ekonomi Kalimantan direncanakan sebagai *superhub* ekonomi Nusantara, dengan penekanan pada percepatan pembangunan sarana dan prasarana di Daerah Khusus Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek ini juga mencakup penguatan industri berbasis komoditas nilai tambah tinggi, seperti pengolahan bauksit, sawit, kelapa, dan karet, bersama dengan pengembangan industri teknologi menengah ke atas. Berlanjut ke koridor ekonomi Bali-Nusa Tenggara (Nusra), fokusnya adalah pada pengembangan *superhub* dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang bertaraf internasional. Beberapa intervensi kunci termasuk hilirisasi industri berbasis nilai tambah tinggi, seperti industri tembaga dan rumput laut, penataan kawasan Danau Lebo Taliwang, serta peningkatan kualitas destinasi di kawasan pariwisata premium Labuan Bajo. Selanjutnya, untuk koridor ekonomi Sulawesi, peranannya sebagai penunjang *superhub* ekonomi Nusantara ditegaskan dengan penguatan industri berbasis SDA. Beberapa program yang diperhatikan antara lain penguatan industri logam dasar, hilirisasi produk kelapa, kakao, dan rumput laut, penyempurnaan jalur kereta api Trans Sulawesi, serta pengembangan pariwisata yang berfokus pada destinasi prioritas Manado-Likupang. Koridor ekonomi Maluku dijadwalkan menjadi hub ekonomi biru bagi Timur Indonesia. Fokus utama di kawasan ini adalah penguatan hilirisasi industri pertambangan nikel, pembangunan Kawasan Industri Teluk Weda dan Kawasan Industri Pulau Obi, serta pengembangan pariwisata di Kabupaten Pulau Morotai dan Bandaneira. Ini termasuk persiapan untuk pengembangan kawasan terintegrasi perikanan dengan komoditas seperti cakalang, tongkol, udang, dan lobster. Terakhir, dalam koridor Papua, dampak industri kimia dasar dan agro ditargetkan melalui berbagai intervensi. Hal ini mencakup pengembangan Bandara Domine Eduard Osok dan Bandara Wamena, peningkatan Jalan Trans Papua, serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Sorong. Selain itu, program hilirisasi industri tembaga di Papua Tengah, serta pengembangan Kawasan Industri Teluk Bintuni dan Kawasan Industri Fakfak, serta peningkatan kawasan pariwisata di Kabupaten Raja Ampat. Scenaider menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi untuk daerah provinsi pada tahun 2025 di kawasan barat Indonesia diperkirakan berada dalam kisaran 5,0 hingga 5,3 persen, sementara kawasan timur mencapai 6,4 hingga 6,9 persen. Dia menambahkan bahwa terdapat 38 provinsi yang diprediksi memiliki angka pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5,3 hingga 5,6 persen. ANTARA