SURABAYA –
**Borneonews - Madiun**, Volume air di Bendungan Dawuhan yang terletak di Desa Plumpungrejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini terjadi akibat berjalannya waktu tanpa hujan, terutama saat memasuki puncak musim kemarau tahun 2024. Menurut informasi dari Petugas Operasional Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, saat ini volume air di bendungan tercatat sekitar 700 ribu meter kubik. Ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas normalnya yang mencapai 3,9 juta meter kubik. Penurunan ini dipicu oleh fase puncak musim kemarau yang sedang berlangsung, serta adanya potensi kekeringan yang berkepanjangan. Terlebih lagi, wilayah Kabupaten Madiun sudah mengalami penurunan curah hujan sejak bulan Mei yang lalu. Meskipun volume air mengalami penyusutan, saat ini waduk tersebut masih mampu memenuhi kebutuhan irigasi pertanian bagi para petani di sekitarnya. Bendungan Dawuhan berfungsi untuk menyuplai irigasi ke lahan pertanian seluas 1.273 hektare yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Wonoasri, Madiun, dan Balerejo. Agar pengelolaan air bisa lebih efisien, penyaluran irigasi kini dikurangi sesuai dengan volume air yang tersisa. Melihat kondisi volume air yang ada, pihak pengelola memprediksi bahwa akan dilakukan penutupan total waduk pada akhir bulan Oktober mendatang. Tindakan ini diambil untuk kepentingan pemeliharaan struktur bendungan dan untuk menghindari potensi kerusakan pada bangunan waduk tersebut. Agung menambahkan, dengan jumlah volume air yang dikeluarkan setiap hari, kemungkinan besar sisa air tidak akan mencukupi kebutuhan pengairan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, ia berharap para petani dapat lebih bijak dalam menggunakan air dari waduk. Bersama dengan Dinas Pertanian setempat, mereka juga mendorong petani untuk mempertimbangkan penanaman palawija selama musim kemarau. Pasalnya, jenis tanam ini membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan dengan padi, sehingga dapat menjadi solusi untuk mencegah gagal panen atau *puso*. ANTARA