JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta Timur**, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur telah mengonfirmasi adanya tiga pasien yang positif terinfeksi cacar monyet (*monkeypox* atau *mpox*) di wilayahnya. Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Herwin Meifendy, dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan pada hari Senin. Berdasarkan informasi yang diterima dari fasilitas kesehatan setempat, terdapat tiga kasus terkonfirmasi dari total sepuluh yang dicurigai, di mana dua pasien diketahui tinggal di Jakarta Timur dan satu pasien lainnya berasal dari luar daerah tersebut. Ketiga pasien saat ini dirawat di rumah sakit untuk menjalani isolasi guna menghindari potensi penularan lebih lanjut. Namun, pihak Sudin Kesehatan tidak mengungkapkan lokasi rumah sakit tempat ketiga pasien tersebut dirawat. Herwin menjelaskan bahwa penanganan untuk pasien yang terinfeksi cacar monyet ini bersifat suportif, yang bertujuan untuk meredakan gejala yang dialami, seperti demam, rasa nyeri, dan kelelahan. Dalam beberapa kasus, terapi antivirus seperti tecovirimat dapat diberikan untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit dan mempercepat proses pemulihan. Untuk pencegahan penyebaran penyakit ini, masyarakat disarankan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (*PHBS*). Ini meliputi rutin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta membatasi kontak dengan individu yang diketahui terinfeksi. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat total 59 kasus terkonfirmasi cacar monyet dari tanggal 13 Oktober 2023 hingga 19 Agustus 2024. Dalam penjelasan yang diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, pada tanggal 26 Agustus, disebutkan bahwa sejak awal tahun 2024, sebanyak 11 kasus telah teridentifikasi, yang tersebar di delapan kecamatan di Jakarta. Secara rinci, enam kasus terjadi pada Januari 2024, tiga kasus pada Februari, serta masing-masing satu kasus pada bulan Mei dan Juni yang ditemukan di luar Jakarta. Kecamatan yang melaporkan kasus terdiri dari Ciracas, Grogol Petamburan, Jatinegara, Kebon Jeruk, Matraman, Pasar Minggu, Tanah Abang, dan Tanjung Priok, dengan semua pasien berusia antara 21 hingga 50 tahun. Meskipun status pandemi cacar monyet telah dicabut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (*WHO*) pada tanggal 5 Mei 2023, kewaspadaan terhadap penyakit ini tetap menjadi prioritas, mengingat risiko penularan yang masih ada. Ani mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menjalankan berbagai langkah pencegahan yang meliputi promosi kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit ini serta melaporkan setiap penemuan kasus melalui rumah sakit dan puskesmas. Selain itu, Pemerintah Provinsi juga melakukan studi kasus kontrol untuk menganalisis dan memberikan rekomendasi penanganan yang dihadapi dalam menangani cacar monyet. Hasil studi menunjukkan bahwa kelompok rentan terhadap penularan meliputi pria berusia 20 hingga 40 tahun, yang bekerja di lapangan, serta mereka yang memiliki orientasi seksual homoseksual dan biseksual, termasuk individu dengan HIV atau infeksi menular seksual (*IMS*). Kelompok-kelompok ini menjadi fokus dalam program edukasi dan promosi kesehatan. Di sisi lain, program vaksinasi cacar monyet tahun 2023 diketahui telah berhasil menjangkau 495 orang dari populasi rentan. Sampai sejauh ini, 495 individu telah menerima dosis pertama vaksin, sedangkan 430 orang di antara mereka sudah mendapatkan dosis kedua. Tersisa 42 vial vaksin yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan yang ada. ANTARA